62. Wali Songo

Sebelum kedatangan Wali Songo, di Indonesia telah terdapat syi’ar  dan penduduk yang telah berstatus beragama Islam.

Sejak tahun 674 m., di pantai barat Sumatera sudah ada koloni-koloni saudagar yang berasal dari negeri Arab.

Pada abad ke -8m., di sepanjang pantai barat dan timur pulau Sumatera di duga sudah ada komunitas-komunitas muslim. ( Sejarah Wali Songo-Pengislaman Jawa).

Pada abad 10 m., telah terdapat makam Fatimah binti Leran di Gresik.

Dari sejarah Cirebon, di sebutkan telah di buka sebuah Pengguron Islam oleh Syekh Kuro.

Tapi kedatangan Wali Songo ke Jawa timur, ketika di kuasai pemerintahan Mojopahit juga dalam keadaan kacau balau, kejahatan merajalela, pembesar pada korupsi, rakyat makin tertindas, sengsara, semakin merasakan ketidaktenteraman, ketidakamanan, aksi perampokan bermunculan.

Sunan Gunung Jati di angkat jadi Wali khutub masriki oleh Syekh Abdul Qodir Jaelani

Syarif Hidayatuloh lulus sebagai Ulama di Mekah, kemudian di panggil menghadap Wali khutub Syekh Abdul Qodir Jaelani. Nampak juga ada kesamaan keulamaan mazhab Syafi’i antar keduanya.

Syekh Abdul Qodir Jaelani, Wali khutub kemudian menyerahkan posisi Wali khutub masriki (kutub timur) pada Syarif Hidayatuloh.

Dari pertemuannya dengan Syekh Abdul Qodir Jaelani ini kemudian beliau meneruskan perjalanan memenuhi undangan Kaisar dinasti Ming di Cina, Ong Gie.

Sayid Maulana Ishak pergi ke Blambangan

Sayid Maulana Ishak sempat datang di Blambangan. Syekh Maulana Ishak kemudian di datangi orang dari Blambangan. Di minta bantuannya untuk menyembuhkan puteri Raja Blambangan yang sakit.

Entah posisi kekerabatan antara Raja Blambangan dengan Prabhu Brawijaya Kertabhumi. Tapi biasanya adat kerajaan, menurunkan takhta pada putera tersulung di kerajaan masing-masing. Tapi dari sudut sejarah ini nampak hubungan langsung Syekh Maulana Ishak dengan Raja Blambangan.

Ceritanya hampir sama dengan apa yang di alami Syarif Hidayatuloh di Cina.

Puteri Raja Blambangan yang sakit, di nyatakan hamil oleh Syekh Maulana Ishak. Prabhu Blambangan marah pada Syekh Ishak. Syekh Ishak pun di salahkan sebagai penyebab kehamilan puteri Blambangan. Dan di wajibkan menikah dengan puteri. Syekh Ishak menyanggupi.

Tapi kemudian Syekh Ishak pun di usir dari Blambangan.

Setelah lahir, oleh ibunya, puteranya di namai Raden Paku. Raden Paku kemudian di titipkan pada Ki Sunan Ampel. Ki Sunan Ampel sempat mendapatkan kejanggalan-kejanggalan pada Raden Paku. Di antaranya menemukan tanda dari tubuhnya dapat memancarkan sinar putih. Setelah melihat tanda-tandanya, Ki Sunan Ampel jadi yakin kalau Raden Paku ialah anak kemenakannya juga.

Setelah berguru pada Sunan Ampel, Raden Paku juga belajar pada Sayid Ishak. Karena kecerdasannya menguasai ilmu agama Islam, beliau pun di angkat menjadi ‘Alim Ulama dan mendapat gelar Sunan Giri.

Setelah dewasa beliau sempat bertemu dengan sekawanan perampok. Dan kawanan perampok itu di kalahkannya. Di antaranya insyaf dan memohon jadi muridnya.

Sunan Ampel dan keturunannya

Sunan Ampel juga berketurunan Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Sunan Ampel juga berketurunan puteri, di antaranya menikah menjadi isteri Sunan Gunung Jati, dan berputera Pangeran Jayakelana dan Bratakelana (Muhammad Arifin)/ juga di sebut Pangeran Pasarean. Keduanya juga masih adiknya Maulana Hasanuddin, Sultan Banten I, dari seayah, Ki Sunan Gunung Jati.

English: terdapat bekas pasujudan sunan bonang

English: terdapat bekas pasujudan sunan bonang (Photo credit: Wikipedia)

Sunan Bonang

Sunan Bonang memiliki kemampuan membunyikan alat musik dengan merdu. Alat musik itu di namai Bonang. Maka sejak itu, beliau di namai Sunan Bonang.

Sunan Drajat

Sunan Drajat ialah adiknya Sunan Bonang. Beliau juga seperti kakaknya ikut menyebarkan ajaran agama Islam.

Sunan Drajat ini juga seperti gemar bertapa. Dan memiliki ilmu kanuragan tinggi.

Sunan Kalijaga

Raden Said semula ialah anak yang di didik belajar agama Islam, di samping juga seperti tradisi bangsawan Majapahit juga di bekali ilmu kanuragan/ silat. Bahkan sebagai keturunan Kapten Gan Eng Chu dari armada Chengho, mungkin juga ia di bekali pula ilmu beladiri dari Tiongkok.

Karena mengamati realitas di negaranya terdapat banyak ketidakadilan, pembesar korupsi, rakyat di peras oleh pemerintah. Membuatnya nekad mencuri persediaan harta dan logistik dari gudang ayahnya Dipati di wilayah Tuban. Harta dan logistik yang di curi kemudian di bagi-bagikannya pada orang-orang fakir miskin yang di temukannya.

Suatu hari, Pengawas gudang bawahan Ayahnya curiga, karena jumlah harta dan logistik di gudang makin berkurang raib. Maka suatu hari di tempatkan mata-mata bersembunyi di gudang, dan yang nampak Raden Said menyelinap masuk ke gudang.

Ayahandanya sangat marah mengetahui anaknya jadi pencuri. Raden Said di kenai sanksi di pecut tangannya, hingga kepalan kedua tangannya terluka parah. Raden Said juga di usir dari rumahnya.

Lantaran setelah peristiwa itu, tidak membuat Raden Said jera. Justru semakin bertambah aksi nekadnya. Hingga ia mulai di juluki sebagai berandal lokajaya. Kerjanya jadi mencuri dan berjudi. Jika menang, hasil judinya juga di berikan pada fakir miskin.

Di malam hari, Raden Said mengenakan topeng dan baju hitam-hitam, seperti Ninja. Kemudian dengan kemampuan kanuragan silatnya, ia dengan mudah masuk menyatroni rumah-rumah orang kaya, seperti pembesar, pejabat.

Kemudian hartanya di ambil untuk sebagian buat bekal dirinya, sebagian di berikan di taruh di tempat-tempat orang-orang fakir miskin.

Kabar tentang Raden Said semakin santer. Mulanya ia di sukai oleh orang-orang miskin, tapi karena sebagian juga mulai muncul cerita miring, akibat ia juga mulai membunuh, sepertinya pada pejabat dan konglomerat kongkalikong korup.

Membuat warga mulai menjadi resah, tapi bukan pada aksi Raden Said, tapi pada aksi komplotan perampok bayangannya yang bisa saja penjahat sebenarnya, dan asal-asalan bertindak di aksi membunuh dan menggarongnya.

Sebab musababnya adalah, pada suatu ketika selepas Raden Said melakukan aksi pencuriannya ke rumah-rumah orang kaya, kemudian menaruh hasil curiannya pada orang-orang fakir miskin,   tidak menyangka di kuntit sekelompok orang.

Sekelompok orang itu kemudian meniru aksi Raden Said, mereka juga ikutan mengenakan pakaian dan topeng hitam-hitam keesokan malamnya.

Sekelompok rampok itu merampok rumah warga, bahkan memperkosa gadis anggota rumah.

Seusai melakukan aksinya seperti biasanya, Raden Said mendengar suara minta tolong. Raden Said langsung menghampiri arah rumah suara teriakan minta tolong.

Tapi, Raden Said pun berhadapan dengan salah satu kawanan rampok yang baru selesai mengakhiri aksinya.

Walau sempat bertarung dengan pimpinan rampok, tapi Raden Said tidak mampu mencegahnya kabur meloloskan diri.

Hingga ketika warga berduyun-duyun datang, yang nampak tinggal Raden Said.

Jadinya Raden Said yang di tangkap, di arak dan kena di pukuli warga.

Membuat Raden Said di usir dari Tuban.

Tapi beberapa waktu kemudian, warga jadi baru tahu ada kelompok rampok lain.  Setelah Raden Said beraksi meringkus kelompok rampok tersebut, dan mengikatnya dalam keadaan pingsan dan babak belur, kemudian di tempatkan di tempat dekat kejadian perkara.

Raden Said kemudian melanjutkan pergi dari Tuban, karena sudah ketahuan sebagai pelaku rampok pada orang-orang kaya.

Wali Songo telah mendengar akan ulah aksi Berandal lokajaya/ Raden Said yang semakin memburuk. Maka di utus Sunan Bonang untuk menemukan Raden Said.

Di perjalanan, Raden Said mulai berasa lapar.  Dan nampak olehnya seorang tua berjanggut putih yang nampak sehat berjalan. Nampak seperti Syekh peranakan Arab.

Raden Said pun menodongkan senjatanya pada si Syekh, tapi Ki Sunan Bonang tetap nampak tenang.

Ki Sunan Bonang berkata padanya, Sesungguhnya Robbku, ALLOH Maha Kaya. Rahmat-Nya ada di segenap alam ini. Coba kau tengok buah dari pohon di sana.

Dan Raden Said menuju ke arah pohon yang di tunjuk Sunan Bonang. Nampak olehnya pohon berbuah emas. Padahal setahu Raden Said, pohon itu tadinya hanya biasa saja.

Raden Said langsung bersimpuh di depan Ki Sunan Bonang, Ki Sunan Bonang kemudian berkata lagi,” Beribadah bukan dengan menggunakan najis.” Raden Said kemudian berkata,”aku bertaubat wahai guru, tolong ajari saya.”

Ki Sunan Bonang kemudian mengantar Raden Said, hingga tiba di Kaliurang. (Sekitar Yogyakarta kini).

Raden Said kemudian di suruh berwudhuk, dan kemudian duduk seperti posisi bertapa menunggu di sana. Hingga nantinya di datangi lagi oleh Ki Sunan Bonang.  Raden Said pun duduk bertapa di kaliurang, bagaikan penjaga kali.

Hingga melalui hujan, sore, malam, pagi, siang, berhari-hari Raden Said duduk bertapa, hingga rambutnya menjadi gondrong dan janggutnya semakin lebat.

Apa yang di wejangkan Ki Sunan Bonang pada Raden Said, bukan wejangan pada orang biasa, karena Raden Said juga sosok yang telah memiliki karunia berupa bekal kanuragan silat yang tinggi.

Beberapa hari kemudian Ki Sunan Bonang mendatangi Raden Said. Raden Said kemudian resmi di angkat sebagai anggota dari Wali Songo, bergelar Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga kemudian seperti mendatangi kembali ke rumah ayahnya. Ayah dan ibunya terkejut lantaran tiba-tiba mendengar suara bacaan ayat Qur’an bergema di sekeliling rumahnya. Beserta angin yang menderu di sekeliling kota Tuban. Menderu kencang di sekitar rumah para pejabat korup. Dan suara yang membaca Kalam Alloh seperti suaranya, Raden Said.  Menyuarakan ayat mengenai keadilan dari Kitabulah Qur’an.

Sunan Kalijaga meneruskan misi gurunya Sunan Bonang, untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Penduduk yang dulunya kenal Raden Said sebagai pemuda brandalan, kini telah berubah.

Bahkan Ki Sunan Bonang telah memberikan ijinnya untuk melakukan jihad keadilan pada penguasa zolim di Tuban.

Cara  syi’ar Sunan Kalijaga juga unik, dengan kesenian. Di samping utamanya dengan mendalang.

Bahkan Sunan Kalijaga membuat cerita baru di wayang, Adiluhung Jamus Kalimasada. Pendapatnya yang terkenal di filsafat seni budaya Islam dari Jawa adalah seni itu adiluhung (seni itu layaknya mulia dan bernilai keadilan).

Dengan bekal kemampuannya di kesenian, Sunan Kalijaga dapat menjaring asosiasi dengan penduduk, bahkan hingga di luar Tuban. Dan dakwah Sunan Kalijaga kebanyakan soal menegakkan keadilan. Jihad utama adalah pernyataan keadilan pada penguasa zolim.

Pejabat /aparat korup yang telah menunggangi kekuasaan ayahandanya selama ini, di ringkusnya. Sunan Kalijaga bersama pengikutnya membersihkan para markus, pejabat korup yang juga telah melakukan manipulasi dengan pengadaan jaringan sindikat kelompok-kelompok penjahat menteror wilayah Tuban.

Ki Sunan Ampel di angkat menjadi Ketua pertama Dewan Wali Songo

Raden Jimbun yang telah lama berguru Islam pada Sunan Ampel, di kunjungi adiknya, Raden Kusen. Raden Kusen telah di angkat sebagai Dipati Majapahit. Kini ia bergelar Dipati Terung.

Raden Kusen menyarankan pada kakaknya untuk sekalian saja menghadap pada Prabhu Kertabhumi.

Raden Jimbun sebenarnya berat menuruti saran adiknya untuk menghadap Prabhu Kertabhumi.  Tapi karena adiknya memaksakan dengan bujukannya, Raden Jimbun mengikuti saran adiknya, walau dengan berat hati.

Di keraton Majapahit, Prabhu Kertabhumi yang di datangi Raden Jimbun, terkejut, karena rupa Jimbun ada kemiripan dengan dirinya. Setelah di tanyakan asal-usulnya, membuat Kertabhumi yakin, Raden Jimbun ialah puteranya yang pernah di titipkannya pada Aria Damar.

Kertabhumi memberikan kedudukan pada Raden Jimbun sebagai Dipati Bintara di wilayah utara Jawa tengah.

Lantaran tanahnya juga basah, atau demek, subur, maka wilayah itu di namakan Demak. Atau Demak Bintara.

Dipati Bintara kemudian membangun wilayah Demak Bintara.

Pada awal 1400 m., di Demak di bangun masjid, yang juga di bantu para Wali Songo.

Kedatangan Pandita Ratu Sunan Gunung Jati.

Syarif Hidayatulah pulang ke Cirebon, setelah mendapatkan peristiwa pengusiran melalui fitnah pada dirinya dari Kaisar Cina, Ong Gie.

Beberapa waktu kemudian kemudian di susul oleh puteri Kaisar, Ong tien, yang sudah kadung jatuh cinta dan telah menikah dengan Syarif Hidayatulah.

Kedatangan Syarif Hidayatulah di sambut Pangeran Cakrabuwana yang telah menjadi penguasa di Cirebon. Pangeran Cakrabuwana kemudian juga menyerahkan kedudukannya pada Syarif Hidayatulah, sekalian sebagai Sultan Cirebon.

Sunan Gunung Jati kemudian datang mengunjungi Demak,kedatangannya di sambut oleh Wali Songo. Yang bahkan menempatkannya di posisi istimewa, Wali Pandita Ratu, atau Wali Raja. Karena Sunan Gunung Jati di samping telah di angkat sebagai Wali Khutub oleh Syekh Abdul Qodir Jaelani, beliau juga putera sulungnya Sultan Mamluk Syarif Makhmud Abdulah, di samping Pangeran Pajajaran yang baru di lantik oleh putera mahkota ke-3 Pajajaran, Pangeran Cakrabhuwana sebagai Sultan Cirebon.

Penyelesaian Masjid Demak tahap awal pembangunannya.

Pada penyelesaian tiang tatal, atau tiang soko guru, yang terdiri dari 4 tiang utama, mungkin juga sebagai simbol 4 mazhab Sunnah, madzhab Maliki, Syafi’i, Hambali, Hanafi.

2 tiang tatal bagian kanan di serahkan pada Sunan Ampel dan Sunan Bonang, 2 tiang tatal bagian kiri bagian Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga.

Karena Sunan Kalijaga juga seniman terhandal di antara para Wali, tiang tatal hasil buatannya nampak lebih istimewa. Juga sebagai tanda, para Wali Songo juga sangat menghargai cara Sunan Kalijaga dengan menyertakan seni budaya lokal dalam akulturasi Islam di Jawa, bahkan di Asia tenggara. Para Wali Songo sebagai Ulama juga tahu kerjanya sebagai Juru Syi’ar Islam juga sebagai Jamuan.

Dan Sunan Kalijaga pengamatan realistisnya juga cermat, di samping sebagai Wali yang sangat mencermati dengan situasi kerakyatan.

Sunan Kalijaga adalah juga maestro Jawa sejamannya, di samping dengan kemunculan masa para master renaissans di barat, juga sejak di abad 14 m.

Tapi ketenaran Sunan Kalijaga dengan kemampuannya menggabungkan syi’ar dengan berkesenian juga membuat efek sinis menjatuhkan dari orang Islam lainnya. Berhubung peta potik kekuasaan mulai di kuasai orang Islam, maka paregreg pun mulai berpindah ke perebutan kekuasaan berkedok Islam.

Sunan Kalijaga bahkan hingga di undang ke Mindanao, dulunya wilayah kerajaan Islam (di Filipina kini). Kemudian Sunan Kalijaga di gandeng oleh Sunan Gunung Jati. Bahkan di nikahkan dengan adik perempuannya Sunan Gunung Jati.

Dan Sunan Kalijaga juga sempat menetap lama dan melakukan pagelaran di Cirebon.

Mangkatnya Ki Sunan Ampel dan pengangkatan Sunan Gunung Jati menjadi Ketua ke-2 Dewan Wali Songo

Ki Sunan Ampel pernah berpesan,”Bagaimanapun Prabhu Majapahit telah memperlakukan umat Islam dengan baik di Jawa, dan mengingat Islam mulanya masuk dengan damai di Jawa.”

Ki Sunan Ampel yang selalu mengajarkan untuk memelihara perdamaian, akhirnya wafat. InnalillaHi wa inna IlaiHi roo ji’uun.

Kedudukannya sebagai Ketua Dewan Wali Songo, di gantikan oleh Sunan Gunung Jati, Wali pandita Ratu.

Sebenarnya Ki Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati juga hampir serupa sifatnya sebagai Wali yang baik, bersabar dan suka memelihara perdamaian.

Tapi Pemerintah pusat di Majapahit juga kian menekan Demak yang juga tempat Dewan Wali Songo, di masanya.

Perkembangan Bintara Demak di curigai pemerintah Majapahit.

Pemerintah Majapahit mendapatkan laporan mengenai kadipaten Bintara Demak yang perkembangannya kian di anggap membahayakan kekuasaan pemerintah pusat di Majapahit.

Maka Prabhu Majapahit mengirim Dipati Terung untuk memanggil Dipati Bintara.

Ketika Dipati Terung sampai di Demak, mulanya di curigai dan sempat di tawan. Jimbun kemudian menanyakan pada saudaranya, apakah ia hendak mengkhianatinya.

Tapi Raden Kusen menjawab, Bagaimanapun ia tetap setia pada saudaranya Jimbun. Tetap pada tujuannya untuk memberontak pada pemerintahan Majapahit. Tapi ia juga mengatakan jika kekuatan Jimbun belum siap untuk menghadapi pasukan pemerintah Majapahit.

Dipati Terung juga berjanji akan melakukan pengintaian pada seberapa jumlah dan peta kekuatan pasukan pemerintah di Majapahit.

Dipati Bintara pun menuruti undangan melalui Dipati Terung untuk menghadap Prabhu Kertabhumi.

Dipati Bintara kemudian bersimpuh di depan Prabhu Kertabhumi, dan walau dengan berat hati, menyatakan kesetiaannya pada Prabhu Majapahit.

Kedatangan Sultan Palembang, Aria Damar mengunjungi puteranya Raden Jimbun.

Majapahit mengangkat senapatinya, Andayaningrat.  Atau juga di sebut senapati Dayaningrat. Di samping Dayaningrat ialah juga Dipati Terung.

Dipati Terung diam-diam melaporkan pengintaiannya pada Raden Jimbun.

Pasukan Majapahit sudah di berangkatkan untuk menggempur kadipaten Bintara.

Sepulang ke Demak, Dipati Bintara diam-diam tetap menghimpun dan mempersiapkan pasukan Demak.

Mendengar kabar mengenai Bintara, Sultan Palembang Aria Damar bersama bala pasukannya  atang mengunjungi puteranya, Raden Jimbun.

Aria Damar dan Jimbun kemudian menghadap ke Dewan Wali Songo, untuk membahas soal bakal tekanan pemerintah Majapahit.

Ketua Dewan Wali Songo, Sunan Gunung Jati, telah menyetujui untuk berperang mempertahankan diri, jika pasukan Majapahit terlebih dulu mengirim pasukan untuk menggempur.

Para Dipati juga telah di kontak, di antaranya Dipati Lembu Peteng (Raden Bondan Kejawan), juga menyatakan kesediaannya bergabung.

Pasukannya yang terdiri dari penjuru nusantara di namai laskar Suronata.

Panglima I Suronata, Sunan Kudus I tewas

Pasukan Majapahit lebih banyak dari laskar Suronata. Bahkan sebenarnya lebih terlatih sebagai pasukan militer pemerintah bertahun-tahun.

Di Bintara, Raden Jimbun dan kumpulannya juga mulai khawatir. Jika benar-benar jadi Majapahit menggempur, maka juga menjadi taruhan antara hidup dan matinya di antara mereka.

Pasukan Majapahit kian dekat ke Bintara.

Raden Ja’far atau Sunan Kudus I di angkat sebagai Panglima Suronata.

Sunan Gunung Jati memberinya badong, sejenis pakaian zirah dan perisai. Sunan Kudus kemudian berangkat memimpin laskar.

Perang pun mulai berlangsung. Kedua kubu melakukan perlawanan sengit.

Perang terjadi berhari-hari.

Dengan hasil mengejutkan, laskar Suronata yang mulanya mengungguli medan pertempuran. Banyak prajurit Majapahit yang tewas di tangan Sunan Kudus.

Perang di lanjutkan, kali ini senapati Andayaningrat turun langsung untuk menghadapi Sunan Kudus.

Maka terjadilah pertarungan duel memuncak antara senapati Andayaningrat dengan Sunan Kudus.

Sunan Kudus mengerahkan berbagai kemampuannya, tapi senapati Andayaningrat terlalu kuat baginya. Sunan Kudus sempat menusukkan keris pusakanya pada senapati Andayaningrat, tapi tidak mempan.

Bukan hanya itu, senapati Andayaningrat kemudian balas menyerang. Karena serangannya seperti orang berkelebat tidak kelihatan, Sunan Kudus terkena senjatanya.

Sunan Kudus tewas syahid di medan laga.

Perang pun sempat di hentikan.

Laskar Suronata mengangkat jenazah Sunan Kudus. Duka sempat menyelimuti di kubu Suronata.

Di tengah waktu itu, di malam harinya Ki Sunan Gunung Jati mengirimkan tikus-tikus ke kemah-kemah pasukan Majapahit. Tikus-tikus menggerogoti perbekalan tentara Majapahit.

Kegagalan sukses yang tertunda

Puteranya Sunan Kudus, Raden Iman di angkat menjadi Panglima Suronata, Sunan Kudus II.

Sunan Kudus II gantian di kenakan pakaian badong oleh Ki Sunan Gunung Jati. Tapi  Sunan Kudus juga mengganti keris pusakanya.

Sunan Kudus berangkat maju dengan berani.

Sunan Kudus langsung maju mengincar senapati Andayaningrat.

Pertarungan keduanya segera berlangsung sengit.

Semangat, tenaga dan kepandaian Sunan Kudus yang berusia muda di rasakan lebih kuat berbeda dari pendahulunya.  Senapati Andayaningrat berbalik jadi kewalahan.

Sunan Kudus telah memperhatikan kelemahan senapati Andayaningrat. Yaitu terletak di jimatnya.

Dengan serangan tipuan, Sunan Kudus merebut jimatnya senapati Andayaningrat.

Kemudian menghunjamkan serangannya. Hingga bersarang kerisnya di ketiak Andayaningrat. Kemudian sekali lagi Sunan Kudus menusukkan kerisnya.

Senapati Andayaningrat pun tewas.

Tentara Majapahit yang tersisa dan lemah kekurangan bekal, mundur kembali ke Majapahit.

Dipati Terung telah menunjukkan peta istana Majapahit pada laskar Suronata

Kemenangan laskar Suronata

Prabhu Kertabhumi di gulingkan Dipati Bintara

Senapati Jimbun kemudian dapat memasuki istana kedaton Majapahit.

Kedatangan Dipati Bintara di sambut dengan tangan terbuka oleh Prabhu Kertabhumi. Tapi mendadak Jimbun mencabut kerisnya di arahkan di leher Kertabhumi.

Orang-orang Jimbun juga telah menghunus senjatanya menahan orang-orang Kertabhumi di dalam istana.

Kertabhumi sambil berwajah bingung bertanya pada Jimbun, ” Puteraku, apa yang kau lakukan, mengapa kau lakukan perbuatan ini?”

Tapi Dipati Bintara kemudian memerintahkan orang-orang Demak menangkap Kertabhumi. Singgasana, pusaka dan atribut Majapahit di boyong ke Demak.

Sejak itu kekuasaan Majapahit di pindah ke Demak, tanpa perlawanan berarti dari Kertabhumi. Bahkan tanpa pembunuhan. Kertabhumi di jadikan tahanan rumah di Demak.

Singgasana Majapahit di taruh sebagai mimbar dakwah di Masjid Demak. Sedangkan penduduk umat Islam di Jawa mulai mayoritas.

Sejak itu Dipati Bintara, Raden Jimbun di nobatkan sebagai Sultan Demak (I) bergelar sebagai Raden Patah, atau mulanya Raden Fatah, tapi karena masih di masa awal penduduk Jawa mayoritas baru memeluk agama Islam, maka di sebut dengan lidah Jawa menjadi Raden Patah.

Sebagai penguasa baru Majapahit melalui kasultanan Demak, Raden Patah justru membebaskan wilayah-wilayah kerajaan yang dulunya terikat di bawah Majapahit.

 

Prabhu Girindrawardhana sepupu Kertabhumi membalas dendam

Pemindahan pusat pemerintahan ke Demak, juga di anggap mengecewakan penduduk bumiputera Jawa, yang beragama Islam atau Hindu. Karena kasultanan Demak sebagai penguasa baru di Jawa, di anggap cuma berbagi dengan komunitas Tionghoa. Demak di anggap telah mengabaikan hak bumiputera.

Dari Blambangan, Girindrawardhana mengangkat dirinya sebagai Prabhu Majapahit. Dan ia juga melakukan kontak dengan Portugis.

Gempuran Prabhu Girindrawardhana pada kasultanan Gresik

Sunan Kudus sempat berucap mengkritik pembangunan masjid di Gresik yang di nilainya berlebih-lebihan.

Dari ucapan Sunan Kudus ini dapat di perkirakan bagaimana dulunya kerajaan Gresik menjadi kerajaan termegah di Jawa.

Bahkan hingga kini pun perusahaan semen terkuat di Jawa, termasuk Semen Gresik.

Prabhu Girindrawardhana tahu, hadangan terberatnya untuk menggempur Demak, adalah Sunan Giri, kerabatnya yang juga berasal dari golongan kasepuhan di Blambangan.

Sunan Giri juga sempat menjadi guru besar di Demak dan Cirebon.

Di Demak, Raden Patah sebagai Sultan Demak I, telah pula mengambil isteri-isteri,   puteri Sunan Giri dan puteri Kanduruwan.  Dari puteri Sunan Giri, menurunkan putera-putera Raden Surya/ Yunus (Yat-sun di sebutan orang Tionghoa) atau juga di kenal Pangeran Sabrang Ler, dan Raden Trenggono. Dari puteri Kanduruwan lahir Raden Kanduruwan/ Pangeran Seda Lepen, atau di sebut juga Raden Kikin. (Kelak ayahnya Dipati Jipang-kang, Arya Penangsang ).

Prabhu Girindrawardhana setelah melakukan persiapan, mengirimkan pasukan Majapahit menggempur kerajaan Giri.

Pasukan Sunan Giri tidak mampu membendung masuknya pasukan Majapahit.

Hingga ketika pasukan Majapahit mencapai puncak mendekati keraton tempat semayam Ki Sunan Giri. Ki Sunan Giri masih di dalam berdho’a pada ALLOH SWT.

Pasukan Ki Sunan Giri sudah kewalahan menghadapi pasukan Majapahit.

Tapi tiba-tiba terdengar suara,” Cukup, kalian menepilah.” Ialah Ki Sunan Giri yang keluar dari tempat semayamnya, dengan membawa tongkatnya.

Kemudian Ki Sunan Giri sambil melafaskan Kalimatilah, menyerang pada pasukan Majapahit.

Serangan Ki Sunan Giri membuat banyak di antara tentara Majapahit ambruk. Gantian pasukan Majapahit berbalik terdesak kalah.

Sepak terjang Ki Sunan Giri tidak mampu di hadapi pasukan Majapahit. Hingga pasukan Majapahit memilih kabur kembali ke Majapahit.

Namun sesuai pertarungan tadi, Ki Sunan Giri tiba-tiba jatuh lemas. Dan wafat. Usianya pun sudah terlalu tua.

Tewasnya Prabhu Girindrawardhana

Mangkatnya Ki Sunan Giri, membuat Demak bersiaga mempersiapkan pasukan untuk menyerang Prabhu Girindrawardhana.

Pasukan Demak yang telah lebih kuat, mengirim pasukan berkudanya.

Kedaton Girindrawardhana tidak mampu membendung gempuran pasukan Demak.

Istana Majapahit di jarah rayah habis-habisan.  Prabhu Girindrawardhana tewas di penyerbuan itu.

Raden Patah memimpin pasukan Demak menyerang kelompok pemberontak  Tionghoa di Semarang.

Walau telah menjadi Sultan pemerintah di Jawa, tapi Raden Patah belum puas, karena masih terdapat keberadaan penjajah asing mulai memasuki nusantara. Seperti Portugis dan Spanyol yang telah memasuki Maluku. Dan keberadaan Portugis menguasai Malaka, turut mempersulit pedagang-pedagang Tionghoa jaringannya.

Dan masalah lainnya adalah di warga Tionghoa pun mulai terdapat ketidakkompakan di antara sesama Tionghoa. Karena orang-orang Tionghoa merasa juga punya andil berkuasa, maka mulai muncul kelompok-kelompok lain yang juga berseberangan kepentingan dengan Raden Patah. Bahkan hendak mengkhianatinya. Orang Tionghoa juga berasal dari Cina, juga memiliki sifat sebagai bangsa Asfar yang tidak bisa di percaya, dapat membelot, manipulatif, koruptif, lantaran mengutamakan oportunis sematanya, dan punya sifat tamak di banding setia pada Raden Patah yang telah di angkat menjadi Sultan pemilik wewenang otonomi kerajaan.

Sesama bangsa Asfar/Cina yang pernah punya sejarah perang sembilan pedang kerajaan, Sam Kok. Di samping peninggalan sejarah sebagai Panglima bersiasat Sun Tzu.

Raden Patah mengirimkan Sunan Kudus pada Ki Ageng Tingkir, putera Andayaningrat

Cerita cucu Ki Sunan Kudus, Jaka Tarub mengintip bidadari Wandan mandi

Di kemudian hari, putera Ki Sunan Kudus menjalin asmara dengan gadis puteri. Tapi dari jalinan asmara itu lantaran kelamaan di pacari, pacarnya hamil.

Karena takut pada ayahandanya Ki Sunan Kudus, keduanya merencakan kabur kawin lari.

Tapi di perjalanan, kekasihnya mendadak mesti melahirkan.

Usai melahirkan, kekasih putera Sunan Kudus, wafat.

Bayinya kemudian di titipkan ke desa. Dan di namai Jaka Tarub.

Portugis berganti mendekati Raja Pajajaran.

Tadinya sisa kerajaan besar Hindu di Nusantara adalah adalah Majapahit dan Pajajaran. Tapi sejak Majapahit duluan di kandaskan, tinggal sisa Pajajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s