61. Melalui masa Paregreg Mojopahit

English: Genealogical diagram of Rajasa Dynast...

English: Genealogical diagram of Rajasa Dynasty, the royal family of Singhasari and Majapahit. (Photo credit: Wikipedia)

Dari gambaran silsilah Raja-raja mulai Singosari hingga Mojopahit ini, di dapat bahwa Kusumawardhani menikahi kepala pendeta Hindu, Wikramawardhana.  Yang nampak di tinjau dari indeks gambaran silsilah Raja-raja Mojopahit ini, Wikramawardhana masih kemenakan dari adik seketurunan Prabhu Hayam Wuruk, dari adik perempuannya, Iswari yang menikah dengan Singhawardhana Raden Sotor / Bhre Pagutan (adik sepupunya Hayam Wuruk).

Sepeninggal Hayam Wuruk, membagi wilayah Mojopahit menjadi dua, satunya di bagian barat, buat puteri sulungnya dari permaisuri Paduka Sori, Kusumawardhani, dan satunya di bagian timur (wetan) / Blambangan buat putera dari selirnya, Bhre Wirabhumi.

Mulanya hubungan antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi yang menikahi Nagarawardhani/Bhre Lasem (adiknya Wikramawardhana) biasa saja, tapi tiba-tiba jadi perseteruan. Bhre Wirabhumi tidak puas hanya mendapat wilayah ekor timur saja.

Tadinya Bhre Wirabhumi dan pasukan Blambangan sempat melakukan penguasaan pada wilayah Mojopahit barat. Bahkan Wikramawardhana yang berusia lebih tua darinya sempat di kalahkan melalui adu duel dan nyaris terbunuh oleh Bhre Wirabhumi.

Wikramawardhana dalam pelariannya mengangkat senopati Raden Gajah.

Kedatangan kapal-kapal Cina di bawah laksamana Chengho

Menurut I’Tsing, juru catat armada Chengho, menuliskan temuannya di Jawa, wilayahnya kaya dengan hasil alam melimpah. Emas, bahkan ketakjubannya melihat pesona keindahan alam Jawa, dengan gunungnya berbebatuan putih. Hingga kawah di gunung berwarna-warni. Tapi penduduk Jawa di masa itu juga bertemperamental keras. Sedikit marah, dapat dengan mudah mencabut kerisnya. Hingga berduel dengan keris. Bahkan hingga mati.

Utusan Cheng-ho mendatangi kerajaan Blambangan. Dan 70 utusannya turut tewas di gempur dadakan oleh pasukan Mojopahit barat.

Karena penguasa di Jawa yang di anggap waktu itu kerajaan Blambangan, Chengho mengirimkan sebanyak 70 utusannya ke sana. Tak di nyana mendadak Blambangan kedatangan juga gempuran pasukan kiriman Wikramawardhana, dan 70 utusan Chengho pun turut tewas.

Bahkan Chengho pun juga sempat mendapatkan upaya percobaan pembunuhan padanya. Tapi karena Chengho juga berbekal ilmu bela diri yang tinggi, dapat lolos dari maut, menghadapi sekelompok orang berpakaian ala ninja.

Dan cerita paregreg pun juga di selingi cerita ala film silat dan kungfu.

Bhre Wirabhumi yang lolos dengan kapal dari gempuran mendadak, di kejar Raden Gajah. Hingga ketika di temukan, di pancung kepalanya oleh Raden Gajah.

Hukuman pada Raden Gajah

Ratu Kusumawardhani menangis sedih mendapatkan laporan kematian Bhre Wirabhumi di perlakukan hina demikian.

Dan Ratu Kusumawardhani menjatuhkan sanksi hukuman mati pada Raden Gajah.

Bhre Daha dari Daha, puteranya Bhre Wirabhumi di panggil ke Blambangan untuk meneruskan takhta.

Sejak peristiwa Paregreg, muncul cerita rakyat di Mojopahit, Menakjinggo dan Dhamarwulan. Ceritanya seperti cermin sifat Raja Mojopahit, antara bisa berupa sifat raksasa jahat atau sifat ksatria rupawannya Dhamarwulan harapan rakyat.

Dan paregreg ini sebetulnya bukan hanya di jaman Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi saja, tapi juga di jaman kelanjutannya Majapahit, sejak para pembesar mulai korupsi, dan terdapat antar bangsawan Mojopahit juga saling sikut, bahkan saling bunuh, untuk melakukan perebutan kekuasaan. Dan di masa demikian, lantaran juga mengakibatkan pemerintahan juga makin buruk, Majapahit memasuki kemerosotannya,  bahkan wilayah di antaranya mulai melepaskan diri. Sepeninggal Gajah Mada, Tribhuwanatunggadewi dan Hayam Wuruk, eksotika kejayaan Majapahit dengan Sumpah Palapa nusantara, gemah ripah lohjanawi tata tenterem kertaraharja jasa, Negarakertagama-Pararaton Kutaramanawa tinggal kenangan.

Wikramawardhana kembali duduk di singgasananya

Wikramawardhana mendapatkan kembali singgasananya, tapi juga mesti dengan membayar mahal. Lantaran ia juga mesti mempertanggungjawabkan aksi pasukannya hingga menewaskan 70 utusan Cina. Wikramawardhana mengirimkan utusan ke Cina, dan di wajibkan mesti membayar denda emas yang banyak.

Wikramawardhana kemudian mengirimkan ekspedisi Mojopahit kedua kalinya menggempur kerajaan Kulisadara (dari keturunan Adityawarman) yang telah beribukota dan berkedaton di Palembang.

Salah satu putera mahkotanya, Paramisora meloloskan diri dan tiba di Tumasik (Mertasinga / Singapura).

Kapten Gan Si Cang menikah dengan puteri Dipati Aria Tuban

Kapten Gan Eng Chu termasuk kapten di salah satu galangan kapal laksamana Chengho. Sebagian awak Chengho tetap memutuskan menetap di Jawa. Tidak ikut pulang dengan Chengho kembali ke Cina. Sebagian di tempatkan Chengho di Sumatera. Setelah kedapatan terdapat bajak laut dari Cina yang juga sempat berpapasan dengan kapal Chengho. Dan Chengho menangkap bajak laut tersebut dan menghukumnya.

Di Tuban, Kapten Gan Eng Chu bertemu dengan puteri Dipati Aria Tuban, yang juga turunan Ranggalawe, salah satu senopati tersohor Mojopahit di masa Sang Rama Raden Wijaya.

Dari pernikahannya, kelak menurunkan cucu Raden Said atau Gan Si Cang di nama Cinanya.

Kedatangan Wali Songo pertama, Syekh Maulana Malik Ibrohim melalui Mandailing dan Banten

Syekh Maulana Malik Ibrohim ini di sebut di sejarah tiba di Mandailing, sekitar awal abad 14 m., kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa, tiba pertamanya di Banten. Bahkan Syekh Maulana Malik Ibrohim sempat mendirikan pengguron dan mengajar di Banten.

Di Krawang, juga terdapat Syekh Kuro. Syekh-syekh ini berasal dari Timur tengah khusus ke Jawa menyebarkan ajaran agama Islam. Walau terjadi paregreg bertahun-tahun lamanya di Majapahit, tapi Jawa tetap di anggap sebagai pusat kekuasaan yang berpengaruh di Asia. Tapi nantinya tetap terjadi pertentangan antara sisa orang-orang Mojopahit dengan keberadaan kekuasaan yang di anggap dari mancanegara, bahkan hingga memasuki masa berdirinya kerajaan Islam di Jawa. Dengan juga mengidap penyakit dalam ironitas, kontroversi dan paregreg internal bumiputera yang masih terdapat.

Syekh Maulana Malik Ibrohim kemudian melanjutkan perjalanan untuk memasuki Majapahit. Tapi ketika memasuki Majapahit, beliau masih menemukan hal-hal yang aneh dan menyimpang. Seperti ketika beliau menemukan terdapatnya upacara agama, untuk menurunkan hujan dengan pendeta hendak mengorbankan gadis dengan belati.

Syekh Maulana Malik Ibrohim mencegah perbuatan si pendeta. Tapi di tuntut balik oleh pendeta untuk mendatangkan hujan. Syekh Maulana Malik Ibrohim pun berkata, kalau soal mendatangkan hujan, saya tidak bisa, tapi Robb-ku, ALLOH SWT., Yang Maha Kuasa, dapat mendatangkan rahmatnya, termasuk hujan. Insya ALLOH.

Dan Syekh Maulana Malik Ibrohim pun menadahkan tangannya berdho’a meminta pada ALLOH. Dan melakukan sholat minta hujan pada ALLOH.  Dan Masya ALLOH, dho’anya di kabulkan ALLOH SWT., hujan turun dengan deras.

Sejak peristiwa itu, wilayah tersebut, penduduknya berduyun-duyun masuk Islam dan belajar agama pada Syekh Maulana Malik Ibrohim.

Suatu hari Syekh Maulana Malik Ibrohim hendak menghadap pada Prabhu Mojopahit, Wikramawardhana, dan nampak berpapasan dengannya sedang menunggang gajah di iringi pengawalnya.

Tapi Prabhu Wikramawardhana nampak bersikap melengos berlalu angkuh pada Syekh Maulana Malik Ibrohim.

Syekh Maulana Malik Ibrohim kemudian tiba di  wilayah utara pantai, Gresik. Hingga beliaupun juga di kenal sebagai Sunan Gresik.

Sejak terdapatnya kerajaan Blambangan, di Bali juga telah terdapat kerajaan Buleleng. Bahkan hingga jaman kini, dari Jawa jika hendak ke Bali, mesti melalui pelabuhan Banyuwangi/Banyu Urip (pesisir Kahuripan) yang dulu di wilayah kerajaan Blambangan. Di mana juga di sekitarnya kini terdapat wilayah bernama Tanjung Jati. Apalagi setelah Bhre Wirabhumi, kerajaan Blambangan di pegang oleh puteranya, Bhre Daha dari Kediri.

Pernikahan Wikramawardhana dengan Ratu Kusumawardhani menurunkan Ratu Suhita, sebagai pewaris takhta.

Wikramawardhana juga mengambil beberapa selir. Di antaranya isteri Duta Kamboja yang datang di Mojopahit. Di sebut Endang, yang kemudian menurunkan Swan Liong.

Paramisora mendirikan kerajaan Malaka, Tumasik di ambil Pajajaran jadi Mertasinga

Tumasik walau masih menjadi pelabuhan strategis, tapi sudah berbeda di kuasai oleh Raja Pahang.

Paramisora terlibat perselisihan di Tumasik. Dalam perselisihan Paramisora membunuh kerabat Raja Pahang. Paramisora pun jadi di buru pasukan Pahang.

Paramisora melarikan diri hingga di selamatkan di desa nelayan, yang waktu itu ciri kawasan Malaka. Paramisora bersembunyi di desa nelayan, dari kejaran pasukan Pahang.

Paramisora berhasil mengontak kasultanan Samudera Pase. Atas pertolongan Samudera Pase, Paramisora bahkan menikah dengan puteri Sultan Pase, Megatiskandarsyah.

Hingga suatu ketika, Paramisora mengirimkan utusan pada Raja Cina I dinasti Ming, Yung lo untuk memperkuat kedudukannya sebagai Raja di Malaka.

Dengan kehadiran pasukan Cina di Malaka, pasukan Pahang jadi urung menggempur Malaka.

Pelabuhan Malaka kian berkembang di bawah Raja Paramisora di abad 14 m.

Pertemuan Arya Damar dan Ratu Suhita

Swan Liong ketika beranjak dewasa semakin gencar mendesak Ibundanya, untuk mengatakan siapa sebenarnya ayahnya. Karena makin di desak, Ibundanya pun menjawab, bahwa ayahandanya ialah Prabhu Wikramawardhana. Dengan mengambilnya sebagai selir dari mulanya sebagai isteri Duta besar Kamboja di Jawa.

Swan Liong mengendap dendam padanya lantaran membuatnya bersama Ibundanya terbuang.

Swan Liong pun pergi ke Majapahit. Hendak mencari Brawijaya.

Tapi tiba di keraton Majapahit, ia bertemu dengan Ratu Suhita.

Dari pertemuan dengan Ratu Suhita, Swan Liong mendapatkan ayahandanya telah mangkat dan di gantikan Ratu Suhita.

Ratu Suhita memberikan syarat pada Swan Liong, supaya dapat di terima di kerajaan Majapahit, mesti dapat menangkap buruan menjangan di hutan. Swan Liong pun menyanggupi.

Swan Liong berhasil menangkap puluhan menjangan dan di serahkan ke Ratu Suhita. Sejak itu Ratu Suhita memberikan nama dan penghargaan Majapahit pada ketangkasannya, Aria Damar.

Bersamaan masa itu, kerajaan Wandan (dari Siam) bersekutu dengan Inggeris, hendak menggempur Majapahit.

Dan Ratu Suhita teringat Aria Damar. Maka Aria Damar pun di tunjuk jadi senopati Majapahit untuk menghadapi gempuran Wandan dan Inggeris.

Senopati Aria Damar berhasil memukul mundur pasukan Wandan dan Inggeris. Hingga mereka hengkang dari nusantara.

Ratu Suhita pun hendak mengangkat Aria Damar jadi raja bawahan kekaisaran Majapahit di Palembang.

Pernikahan Ratu Suhita yang beragama Budha ini dan Bhre Kahuripan, tidak menghasilkan keturunan, maka sejak itu terputus sudah keturunan Ratu Kusumawardhani. Maka sisa keturunan Hayam Wuruk tinggal Blambangan.

Di Mojopahit, telah juga terjadi bermacam peristiwa, yang terdengar dari sejarah, perang saudara untuk memperebutkan takhta dan kekuasaan, para pembesar korupsi, dan munculnya kekacauan, perampokan dan kejahatan tinggal terjadi di pemerintahan Mojopahit barat, hingga sepeninggal Wikramawardhana dan Ratu Suhita.

Lantarannya satu persatu wilayah Mojopahit melepaskan diri. Bahkan di antaranya di caplok kerajaan lain. Seperti di Tumasik, yang mulai di caplok kerajaan Pahang.

Pair of andesite door guardians from eastern J...

Pair of andesite door guardians from eastern Java, Indonesia, dated approximately 1300-1400 that would have been at an entrance to a Hindu temple in the kingdom of Majapahit. On display at the Asian Art Museum in San Francisco, California. Object ID: 1997.6.1 and 1997.6.2 (Photo credit: Wikipedia)

Dari sudut Pajajaran

Di Jawa, putera mahkota Pajajaran, Siliwangi berguru pada Empu dari Malang. Empu Malang mengajarkan ilmu kanuragan silat purba, berasal dari kitab purba, Sutasoma.

Pangeran Siliwangi mempelajari jurus kanuragan langka, 10 macan siluman. Dimana ia dapat merubah dirinya jadi 10 rupa macan, bahkan memiliki jurus halimun/ jurus sirna.

Seusai di rasa cukup berguru pada Sang Empu, Prabhu Siliwangi melakukan penaklukan-penaklukan, di antaranya merebut wilayah-wilayah yang dulu telah lepas dari Mojopahit, akibat pemerintahan buruknya.

Di antaranya Jepara, dan Tumasik di ubah jadi Mertasinga. Di namai seperti ilmu kanuragannya Prabhu Siliwangi.

Prabhu Siliwangi di awal takhtanya menikah dengan puteri mayang Sunda, dan berputera pertama Sang Surawisesa dan putera ke-2 Sang Surosowan.

Putera sulung, Sang Surawisesa di jadikan putera mahkota Pajajaran. Sedangkan Sang Surosowan di jadikan Dipati pesisir di Banten.

Sang Surawisesa ini sebagai putera mahkota kerajaan Hindu Pajajaran, telah juga di wejangkan Prabhu Siliwangi untuk tetap meneruskan beragama Hindu. Sedangkan Sang Surosowan beragama Islam, karena di Banten telah berpenduduk umat Islam sejak Syekh Maulana Malik Ibrohim mendirikan surau dan pengguron di Banten.

Prabhu Siliwangi menikah lagi dengan isteri ke-2, puteri Dipati Mertasinga yang beragama Islam, Ni Subanglarang. Dari pernikahannya dengan Ni Subanglarang, menurunkan putera ke-3, Pangeran Cakrabuwana, puteri Ni Rara Santang, dan putera ke-4 Pangeran Sengara/ Kian Santang.

Menurut Babad Cirebon, Pangeran Cakrabuwana ini juga putera mahkota Pajajaran, tapi di urutan sekian setelah Sang Surawisesa, bahkan Sang Surosowan yang telah duluan berpengalaman menjabat Dipati pesisir di lapangan.

Pangeran Cakrabuwana dengan adik-adiknya, Ni Rara Santang dan Pangeran Sengara yang telah masuk Islam ini, nampaknya tidak cocok dengan kerajaan Pajajaran yang bertradisi Hindu, kemudian meninggalkan istana.  Dan perjalanannya tiba hingga di desa dukuh, di pesisir tegalan utara Jawa, yang tadinya termasuk  wilayah kerajaan Galuh. Raja Galuh ini di urutan Raja-raja Sunda, masih adik kekerabatan dengan Pajajaran.

Entah mengapa Pangeran Cakrabuwana ini di sejarah seperti terdapat missing link kenapa tidak terdapat ceritanya juga melakukan kunjungan silaturahmi pada abangnya, Dipati Surosowan di Banten.

Dukuh di tegalan ini, lama kelamaan jadi semakin berkembang, hingga menjadi pusat kedatangan penduduk. Hingga di sebut Syarumban, kemudian Caruban larang, hingga Cirebon. Ada pula di sebut Grage atau Negara gede.

Pangeran Cakrabuwana menikah dengan puteri Lurah Cirebon. Adapun Pangeran Sengara pindah ke Garut. Pangeran Sengara ini juga mewarisi ilmu kanuragan silat purba ayahandanya. Jurus macan siluman, bahkan juga memiliki semacam macan putih siluman piaraan, tapi tetap beragama Islam.

Syekh Maulana Malik Ibrohim telah menetap di Gresik bertahun-tahun lamanya.

Syekh Maulana Malik Ibrohim telah menetap lama di Gresik, murid-muridnya mulai berduyun-duyun mendatanginya di Gresik. Wilayah Gresik kian ramai.

Situasi di Majapahit telah mengalami perubahan, kian merosot. Kertawijaya pengganti Suhita, tewas di bunuh oleh Rajasawardhana.

Penggantinya kemudian menjadi dinasti Blambangan. Hingga ke Prabhu Bhre Kertabhumi. Bahkan juga di curigai Bhre Wirabhumi membunuh Rajasawardhana.

Di masa Prabhu Kertabhumi ini, Majapahit sebagai negara sudah nyaris bangkrut. Hingga ia meminta bantuan pada saudagar muslim Cina yang kaya raya, Syekh Bentong. Syekh Bentong ini juga termasuk Wali Songo kedua tertua di Jawa. Maka kemudian muncul mazhab Maliki Hambali dan Hanafi di Jawa.

Di kerajaan Anom, di Kamboja, puteranya Raden Ali Murtala (Raden Burereh ) dan Raden Ali Rahmat  (Raden Santri) hendak mengunjungi ayahandanya, Syekh Maulana Malik Ibrohim ke Jawa.

Raden Ali Rahmat kemudian singgah menghadap Prabhu Mojopahit, Bhre Kertabhumi.

Raden Santri yang mewarisi ilmu agama Islam lebih banyak dari kakaknya, mendirikan pengguron di Ampel, (mungkin sekitar Surabaya kini).

Prabhu Bhre Kertabhumi ini menikahi puteri Dwarawati, kakak dari ibunya Raden Ali Murtala dan Raden Ali Rahmat, puteri Chandrawati dari Kamboja.

Maka dengan mudah, kedatangan Raden Ali Murtala dan Raden Ali Rahmat di sambut oleh Prabhu Bhre Kertabhumi.

Bhre Kertabhumi juga mengambil selir dari puteri saudagar Cina, Syekh Bentong. Dan ketika puteri Cina hamil, Permaisuri Dwarawati yang cemburu menyuruh  puteri Cina di buang.

Kertabhumi pun memberikan puteri Cina yang hamil pada Aria Damar di Palembang.

Hingga ketika lahir, puteranya di namai Raden Jim-bun.

Dari pernikahan Aria Damar dengan puteri Syekh Bentong juga lahir putera ke-2, Raden Kin-San.

Prabhu Kertabhumi suatu ketika kena penyakit Raja singa, penyakit ini, seperti  karena kesalahan berhubungan intim dengan perempuan yang mengidap penyakit kelamin. Tampaknya Prabhu Kertabhumi juga kecewa berpelaminan dengan Dwarawati, tapi mandul.

Dan oleh tabibnya, Kertabhumi di anjurkan untuk mengambil selir Wandan (sejenis perempuan keturunan Cina), untuk mengobati penyakit raja singanya.

Ternyata setelah berhubungan intim dengan perempuan Wandan, penyakit raja singa Kertabhumi sembuh, tapi si perempuan Wandan juga hamil.

Si perempuan Wandan di titipkan ke suatu keluarga petani di desa.

Ketika usai hamilnya, melahirkan putera, dan di namai Bondan Kejawan.

Raden Jimbun dan Kinsan pergi ke Jawa

Setelah beranjak dewasa, Raden Jimbun menanyakan pada ibundanya siapa ayahnya sebenarnya. Karena di desak, ibunya memberitahu, bahwa ayahnya ialah Brawijaya Kertabhumi.

Aria Damar menjadi khawatir setelah Raden Jimbun tahu siapa ayahnya sebenarnya. Raden Jimbun di tahan supaya tidak melarikan diri dari istana Palembang. Bahkan Aria Damar juga menjanjikan padanya akan mewariskan kerajaannya pada Jimbun.

Tapi Jimbun yang nekat pada suatu malam melaksanakan tekadnya. Ia berhasil kabur dari istana. Ketika tiba di pesisir nampak sosok menyusulnya, Kinsan.

Setelah berhari-hari di pesisir, datang juga kapal menuju Jawa. Jimbun dan Kinsan pun jadi pergi ke Jawa.

Setiba di Jawa, Raden Jimbun enggan pergi ke Majapahit, karena ia hendak membalas dendam pada Brawijaya Kertabhumi.  Tapi Raden Kinsan meneruskan pergi ke Majapahit dan melamar sebagai prajurit dan di terima.

Raden Jimbun mendengar tentang Perguruan Islam di Ampel, maka ia pun pergi ke sana.

Pengguron Sunan Ampel

Di perjalanan, Raden Jimbun berpapasan dengan Sayid Maulana Ishak, putera ketiganya Sunan Maulana Malik Ibrahim dari Gresik. Keduanya kemudian berguru pada Sunan Ampel.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s