58. Prahara ksatria mata-mata Mojopahit di masa awal Prabhu Jayanegara

Prabhu Wijaya yang sakit parah nampak semakin lemah di pembaringannya. Tragedi-tragedi perselisihan dan pembunuhan antar pembesar-pembesarnya Ranggalawe, Nambi, Sora, turut menjadi penyebab sakitnya.

Menurut cerita Tutur Tinular, di antara penyebabnya adalah hasutan yang di sebarkan oleh sisa orang Kediri yang ingin membalas dendam.

Dan masing-masing pembesar yang iri pada patih Nambi yang di berikan jatah hadiah penghargaan jasanya yang lebih besar. Nambi putera Adipati Wiraraja di Madura juga di fitnah karena termasuk dari kerabat Kediri yang di curigai akan mempersiapkan pemberontakan membalas dendam terhadap Mojopahit.

Pemberontakan terbesar justru dilakukan Ranggalawe, pembesar mantan pentolan senopati Mojopahit pembela Raden Wijaya, yang tidak terima atas perlakuan pasukan Mojopahit akhirnya menggempur Nambi, hingga menewaskannya. Ranggalawe melakukan belapati mengamuk habis-habisan hingga berakhir kematiannya.

Prabhu Wijaya yang dari awal perseteruan antar pembesar padahal selalu mencoba mengambil jalan tengah, namun para pembesarnya malahan mengambil tindakan dengan pasukannya masing-masing, sehingga sempat membuat perpecahan yang sangat melemahkan pertahanan Mojopahit.

Setelah mangkatnya Nambi, Ranggalawe, Prabhu Wijaya pun jatuh sakit keras. Hingga menemui mangkatnya akibat depresi tidak mampu menjaga jalinan persatuan di antara pembesar-pembesar dekatnya sedari mendirikan Mojopahit.

 Dyah Dewi Gayatri, isteri keempatnya atau puteri bungsu Kertanegara yang telah di tunjuk sebagai Rajapatmi pengganti Raden Wijaya menjadi Raja, malah memilih menjadi pendeta.

Pangeran Jayanegara di nobatkan menjadi Raja Mojopahit pengganti kekuasaan Singosari dan Kediri, simbol kekaisaran di Jawa bahkan segenap Nusantara Indonesia dalam usia yang sangat muda belia.  Atau bisa di bilang tergolong usia kanak remaja.

Seperti Kaligula, Kala Gemet juga mempunyai kelainan penyimpangan hipersex.

Di buku sejarah, juga di sebut sebagai pengganti Raden Wijaya ialah Pangeran Jayanegara, puteranya dari isteri pertama atau puteri sulungnya Kertanegara Dyah Sri Tribhuwaneswari. Tapi di silsilah Inggeris-Royal Singosari-Mojopahit, di sebut Jayanegara ialah putera sulung dari pernikahan Raden Wijaya-Dara Petak. Dan di buku sejarah juga di sebutkan, bahwa Dara Jingga di berikan pada Mahamantri Singosari, kemudian berputera Adityawarman.

Puteri dari Rajapatmi, di tempatkan di Daha.

Dalam masa transisi pengangkatan Pangeran Jayanegara sebagai Prabhu Mojopahit, terjadi peristiwa-peristiwa perselisihan antar pengikut agama Hindu dan Budha yang semakin membesar.

Beberapa telik melaporkan terdapat oknum penghasut untuk sengaja menciptakan situasi pemecahbelahan antar dua kelompok agama besar di Mojopahit, yang di curigai motivasi di baliknya adalah buatan komplotan yang ingin merebut kekuasaan di Mojopahit.

Penduduk Jawa seperti di Indonesia kebanyakan terdiri dari umat beragama. Dan umat beragama adalah seperti kekuasaan besar di samping pemerintah.

Karena kerajaan atau pemerintah pun di pengaruhi oleh kekuasaan pembesar dari pemimpin umat beragama. Dan oknum atau komplotan misterius yang hendak merebut kekuasaan negara dapat memasuki celah utama melalui menunggangi agama.

 

Seseorang yang memasuki kepemimpinan melalui agama kemudian dapat menempati posisi kekuasaan tinggi, dan dapat pula mempermainkan kekuasaan atau menjadi kambing hitamnya oknum kekuasaan yang juga menempel kelompok agama.

 

 Melalui agama juga bisa di gunakan alat tunggangan kelompok politik.

 

Dan fenomena ini sudah terdapat di masa klasik kerajaan Jawa, sejak masa Ken Arok sebelum mendirikan Singosari hingga melalui masa Mojopahit sebagai simbol kekaisaran terkuat di Nusantara Indonesia.

Pangeran Jayanegara pun menaiki singgasananya di Trowulan ( Mojokerto ).

Ibukota Mojopahit mulai di perintah oleh Prabhu kanak remaja yang awam ilmu tata kerajaan, tata pemerintahan tata negara di bandingkan para pembesar yang telah mangkat mendahuluinya Nambi, Sora, Ranggalawe, menghadapi regenerasi elit pemerintahan yang di antaranya musuh dalam selimut, serigala berbulu domba, atau muka dua penipu licik.

Masa telah berganti, di mana para raja dan bangsawan belum tentu ancaman terbesar sebagai pengkhianat pencuri kekuasaan dan hak kekayaan negara, tapi  bisa saja dari antara pejabat, Jenderal, pemberontak, dan ancaman bahaya dari mancanegara.

Di keraton Daha, tempat puteri Tribuwana di jaga sepasukan bhayangkari, pasukan khusus Mojopahit pengawal keluarga Raja Mojopahit.

Nampak sesosok pemuda gagah, tegap perkasa beraut serius. Tapi ketika berjumpa dengan puteri Tribuwana raut seriusnya bercampur senyum luluh.

 

 Sosok muda  dan kuat tersebut ialah komandan bhayangkari penjaga keraton Daha berpangkat Bekel ( kopral ), bernama Gajah Mada.  

Gajah Mada melihat sesosok tubuh keluar dari keraton. Gajah Mada pun mengikutinya.

Nampak di halaman keraton, sosok perempuan menatap rembulan di malam hari.

“Tuan Puteri, kenapa keluar malam-malam…,” puteri Tribuwana kaget mendengar munculnya suara yang tiba-tiba muncul mengikutinya.

“Ah, kakang Mada, membuatku kaget saja,” jawab puteri Tribuwana.

“Berbahaya keluar malam-malam bagi tuan puteri tanpa penjaga…” jawab Gajah Mada.

” Lagi pula saya perhatikan tuan puteri sering menyelinap keluar malam, seperti gelisah…,”  tanya Gajah Mada.

” Iya, saya cemas dengan kelakuan kanda Jayanegara belakangan ini”,  jawab puteri Tribuwana.

“Memangnya kenapa dengan Sri Maharaja ?”, tanya Gajah Mada.

“…kelakuannya mulai aneh-aneh, kemarin ia mulai merayuku…katanya ingin menjadikanku sebagai isterinya” jawab puteri Tribuwana.

Gajah Mada pun terdiam sejenak.

” Aku tidak mau di kawinkan dengan kanda Jayanegara…”, jawab puteri Tribuwana.

“Tolong aku kakang Mada, aku tidak mau…” kata puteri Tribuwana, keduanya pun jadi bertatapan.

Dari tatapan, puteri Tribuwana menyandarkan kepalanya ke bahu Gajah Mada yang bidang.

Gajah Mada sebenarnya diam-diam juga memendam rasa cinta pada puteri Tribuwana, tapi ia hanyalah seorang Bekel.

Gajah Mada kurang berani soal urusan asmara dengan puteri Raja di banding Ken Arok, orang Sudra yang bengal.

Seandainya hari itu Gajah Mada menjalin asmara dengan Puteri Tribuwana, mungkin sejarah garis keturunan anak cucunya ialah berkakek Gajah Mada.

Figur kakek moyang yang juga membanggakan wangsa Mojopahit. Dan semangat besar Gajah Mada bagaimanapun juga teladan pada keturunan wangsa Mojopahit yang tersebar di Jawa, Nusantara, dan muka bumi.

Semangat amukti palapasraya. Semangat bangsa Mojopahit seraya menaklukkan bumi.

Tapi bagaimana mau menjadi bangsa penakluk bumi, jika kenyataan kekiniannya bangsanya mengalami kesengsaraan, kemiskinan, perpecahan, dan terjadi korupsi pengerukan di khianati elit pembesar bangsa negaranya sendiri.

Pemerataan kesejahteraan dan bahagian penghidupan layak segenap rakyat tidak tercapai. Sawah, perkebunan, pertanian terbengkalai, pupuknya di persulit elit pembesarnya yang cuma cari untung buat menimbun kekayaannya sendiri.

Itulah sebagian gambaran keadaan Mojopahit setelah terjadi perebutan kekuasaan antar elit pembesarnya di akhir masa pemerintahan Prabhu Wijaya.

Yang cuma memikirkan menimbun bagian kekayaan pribadinya saja, tanpa mengabaikan  membantu kondisi segenap rakyat yang miskin, sengsara, terlantar , mendapatkan perlakuan kesenjangan minimnya untuk mendapatkan kecukupan pendapatan kesejahteraannya.

Mojopahit seperti di rundung kejatuhan. Gajah Mada menangkap kenyataan itu, tapi ia cuma seorang Bekel yang belum di percaya dan di pilih punya kedaulatan  untuk merubah perbaikan keadaan bangsa negaranya yang terlihat jatuh.

Kalaupun ia sudah di pilih banyak rakyat untuk mengemban amanat bangsa -negara, apakah ia juga mampu membuktikan benar-benar mengembangkan bahagian kesejahteraan dan kejayaan seluruh bangsa negaranya.

Sebagai bhayangkari yang di sumpah menjadi ksatria, sebenarnya dalam kebenaran hati nuraninya tidak suka mengabdi pada Raja / Kepala negaranya yang berbuat sewenang-wenang… juga sebenarnya memanipulasi tidak layak sesuai mandat rakyat dan kitab hukum negara… dan amanat keadilan.

Apakah ia mampu berperan sebagai bola bekel yang mampu meraup banyak emas untuk di sebar merata bagaikan congklak berbagi adil dengan bangsa negaranya. Demikianlah renungan niat dedikasi figur Gajah Mada sebagai abdi bangsa negara.

Tapi siapa lagi regenerasi bangsanya yang punya dedikasi ksatria murni bangsa negaranya seperti Gajah Mada? figur pahlawan besar walau tanpa penghargaan prestasi internasional berkali-kali bahkan lebih banyak dari Gajah Mada… di atas kepalsuan memuakkan.

Atau kesombongan keagungan berlebih-lebihan Firaun dan para elit Hamannya di balik perbudakan kesengsaraan dan kesewenang-wenangan  rakyatnya.

Malam itu suasana berlanjut seperti biasanya.

Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan, seperti bunyi adu senjata dan perkelahian. Di bagian sekitar depan keraton Daha nampak terang menyala, seperti nyala api hendak membakar keraton Daha.

Nampak pula kelanjutan lontaran panah berapi meluncur.

Gajah Mada segera menyuruh para bhayangkari mengambil kuda-kuda, dan mempersiapkan formasi seperti yang sudah di latih.

Kemudian menjemput Tribuwana dan para dayang-dayang.

Tribuwana di naikkan berkuda dengan Gajah Mada. Di sekitarnya pasukan berkuda bhayangkari mengawal. Ada yang bagian barisan tameng, barisan pemanah, barisan tombak, barisan penghalau.

Seluruh pasukan telah di perintahkan untuk membasahi diri masing-masing dengan air, hingga kuda-kudanya.

Gajah Mada juga memerintahkan pembakaran keraton Daha, supaya seolah musuh melihat titik api telah mencapai keraton dan membakar segenap penghuninya.

Sementara pasukan bhayangkari akan melalui jalan darurat rahasia yang sejak lama di persiapkan.

Pasukan bhayangkari mendapati beberapa di barisan depan kedapatan di hadang musuh. Namun musuh yang menggebrak dapat di robohkan prajurit bhayangkari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s