69. Sutawijaya memerdekakan Mataram dari kekuasaan Sultan Hadiwijaya

The maximum extent of Mataram Sultanate expans...

The maximum extent of Mataram Sultanate expansions during the reign of Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645). During his reign he expanded the Mataram Sultanate throughout in Central Java, East Java (with exceptions of Blambangan area in extreme East), half of Western Java (except Banten Sultanate area and Batavia Dutch settlement). (Photo credit: Wikipedia)

Ki Gede Pemanahan beserta puteranya Sutawijaya, dan Ki Panjawi menagih hadiah janji Hadiwijaya yang telah jadi Sultan Pajang.

Sultan Hadiwijaya telah menjanjikan hadiah tanah Mataram buat Ki Gede Pemanahan dan puteranya Raden Ngabehi Saloring Pasar, dan tanah Ngawi buat Ki Panjawi.

Tapi Sultan Hadiwijaya malah urung kibul memberikan janji amanatnya.

Ki Sunan Kalijaga mendatangi Sultan Hadiwijaya. Dan mengatakan wasilah padanya, janji adalah amanat.

Pada suatu ketika Sultan Hadiwijaya menitipkan hadiah puteri Kalinyamat yang cantik muda belia pada Sutawijaya.

Tadinya puteri-puteri cantik itu mau di jadikan tambahan selirnya kemudian. Sultan Hadiwijaya ini juga bandot tua.

Tapi puteri Kalinyamat kesengsem dengan Raden Ngabehi. Keduanya pun telah menjalin asmara.

Sultan Hadiwijaya mendengar hal ini menjadi kesal.

Ki Gede Pemanahan dan Raden Ngabehi di panggil menghadap Sultan Hadiwijaya.

Ki Gede Pemanahan sebelum ke istana Pajang menemui Ki Sunan Kalijaga.

Maka Ki Sunan Kalijaga, Ki Gede Pemanahan dan Raden Ngabehi bersama-sama menghadap Sultan Hadiwijaya.

Sultan Hadiwijaya tadinya mau menegur dan menghukum Ki Gede Pemanahan dan Raden Ngabehi jadi sungkan melihat kedatangannya bersama Ki Sunan Kalijaga.

Malahan Ki Sunan Kalijaga yang menceramahi Sultan Hadiwijaya.

“Panjenengan ingat sudah pernah berjanji memberikan hadiah tanah Mataram pada Ki Gede Pemanahan dan puteranya?,” tanya Ki Sunan Kalijaga pada Hadiwijaya.

“Apa Paduka sudah menepati janji  pada bagian Ki Gede Pemanahan dan Raden Ngabehi?,” tanya Ki Sunan Kalijaga lagi.

“Apa Paduka juga akan menyalahi kodrat takdir jika perjaka Raden muda Ngabehi menjalin asmara dengan gadis perawan puteri muda Kalinyamat?,”tanya Ki Sunan Kalijaga lagi.

Sultan Hadiwijaya pun jadi manggut-manggut saja mendengar dinasihati Ki Sunan Kalijaga.

Sultan Hadiwijaya pun memberikan janji hadiah tanah Mataram pada Ki Gede Pemanahan. Dan memberikan restunya pada Raden Ngabehi menikah dengan puteri Kalinyamat.

Ki Panjawi juga di berikan tanah yang kemudian di sebut Ngawi.

Ki Gede Pemanahan bersama puteranya Raden Ngabehi kemudian giat membangun tanah Mataram menjadi desa yang subur.

Di desa Mataram juga di bangun Masjid yang kemudian di sebut Masjid Ki Gede. Tanah Mataram kemudian semakin berkembang hingga menjadi Kota. Maka juga di sebut Kota Gede.

Karena Raden Ngabehi juga sering nampak di Pasar, ia juga di sebut Raden Ngabehi Saloring Pasar.

Karena sudah berusia lanjut, Ki Gede Pemanahan wafat. Beliau di makamkan di sekitar Masjid Kota Gede.

English: One of the gates of Kota Gede, the fo...

English: One of the gates of Kota Gede, the former capital of Mataram Sultanate, Yogyakarta. The complex includes mosque, pool and bathing place, and Mataram royal cemetery. (Photo credit: Wikipedia)

Dari pernikahannya dengan isteri pertama, puteri Kalinyamat, Raden Ngabehi berketurunan seorang putera. Di namai Raden Rangga.

Setelah wafatnya Ki Gede Pemanahan, Raden Ngabehi di angkat menjadi anak oleh Sultan Hadiwijaya. Maka ia pun juga di namai Danang Sutawijaya.

Sutawijaya, seperti ayahandanya juga di kenai kewajiban seba membayar upeti saban waktunya pada Sultan Hadiwijaya.

Sutawijaya kadang pergi merenung sambil melihat debur ombak  di pantai selatan. Ia sebenarnya tidak suka jadi bawahan Sultan Pajang. Di pantai selatan, Sutawijaya juga bersamadi.

Konon, di pantai selatan Sutawijaya ketika bersemadi bertemu dengan Nyai Roro Kidul. Nyai Roro Kidul ini juga mitos Jawa mengenai Ratu penguasa pantai Kidul/ selatan, yang juga membawahi siluman-siluman.

Tapi Nyai Roro Kidul takluk pada Sutawijaya. Bahkan menjadi isteri Sutawijaya.

Terdapat juga cerita mitos, jika pada beberapa waktu, Nyai Roro Kidul berkunjung ke istana Mataram. Tapi di waktu Sutawijaya hingga Hanyokrokusumo ( Sultan Agung), keratonnya adalah di Kota Gede. Kadang juga datang untuk mengunjungi cucu-cucunya Mataram.

The emblem of Karaton Ngayogyakarta Hadiningra...

The emblem of Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta Sultanate). The emblem belongs to Sultan Hamengkubhuwono X, examine the numbers of main feathers on each wings is 10, represent the current reigning Sultan Hamengkubhuwana X. (Photo credit: Wikipedia)

Sutawijaya juga melatih puteranya Raden Rangga dan memberikan ilmu kanuragan/ silat. Mataram juga meneruskan seperti tradisi Raden-raden Mojopahit dulu, juga di berikan ilmu kanuragan/ silat.

Sutawijaya juga di datangi Ki Sunan Tembayat, muridnya Ki Sunan Kalijaga. Ki Sunan Tembayat ini berpesanggerahan di Klaten. Makanya di kota tersebut terdapat daerah Tembayat dan makam Ki Sunan Tembayat.

Kota Klaten ini terletak di Utara antara pertengahan Yogya dan Solo. Jika di lihat di peta, seperti segitiga jika di satukan antara Klaten, Yogya, Solo.  Dan Kota Gede di titik tengahnya. Seperti segitiganya Borobudur. Dulu, simbol Sailendra adalah gunung, dan seni budaya Sailendra berakulturasi dengan Mataram.

English: One of the twin main buddhist temple ...

English: One of the twin main buddhist temple of Plaosan Lor, near Prambanan, Klaten, Central Java. 9th century Sailendra and Mataram Kingdom. (Photo credit: Wikipedia)

Hingga di kota Ngayogyakarta pun, Sri Sultan Hamengkubuwono I menciptakan arsitektur tata kota dengan gerbang lor, wetan, kulon. Hingga pernah di pertanyakan apa maksudnya.

Ki Sunan Tembayat menyarankan Sutawijaya mempersiapkan pembangunan benteng Mataram. Karena nalurinya, Sutawijaya akan menghadapi perang dengan Sultan Hadiwijaya.

Di Pajang, Sultan Hadiwijaya kesal pada ulah Sutawijaya sudah saban waktu tidak datang memenuhi kewajibannya membayar pajak. Di samping kajineman (polisi rahasia)nya melaporkan kalau Sutawijaya membangun benteng di Mataram.

Sultan Hadiwijaya mengirimkan utusannya pada Sutawijaya.

Utusan Pajang setiba di Mataram, nampak melihat Sutawijaya sedang menunggang kudanya seperti kebiasaannya.

Sutawijaya dengan tetap di atas kudanya menanyakan apa maksud kedatangan utusan Pajang. Utusan menyampaikan pesan dari Hadiwijaya, supaya Sutawijaya memendekkan rambutnya. Dan membayarkan kewajiban bayar pajaknya menghadap Hadiwijaya.

Sutawijaya memberikan pesan balik pada utusannya, supaya Hadiwijaya tidak usah ikut campur soal rambutnya di panjangkan semaunya. Lebih baik Hadiwijaya berkaca pada dirinya sendiri, supaya jangan mengganggu isteri orang.

Utusan pun balik ke Pajang.

Sutawijaya semakin berulah pada Hadiwijaya. Para dipati yang tadinya mau menyerahkan pajak pada Hadiwijaya, di cegatnya. Dan di belokkan di ajak ke Mataram.

Di Mataram, uang pajak di buka, Dipati di ajak berpesta pora di Mataram. Hingga Dipati-dipati jadi suka bergaul dengan Sutawijaya. Dan jadi lebih memilih ke Mataram, ketimbang membayar pajak ke Sultan Hadiwijaya.

Dan suatu ketika, puteranya Dipati Mayang ketahuan memasuki kamar puteri Sultan Hadiwijaya. Bahkan puteri Sultan Hadiwijaya hamil.

Raden Mayang di jatuhi hukuman mati.

Bapaknya Dipati Mayang juga kena sanksi hukum oleh Sultan Hadiwijaya.

Dipati Mayang juga mertuanya Sutawijaya.

Sutawijaya pun pergi menyerang iring-iringan pasukan Pajang membawa Dipati Mayang yang hendak di jebloskan ke hukuman.

Pasukan Pajang berhasil di kalahkan dan di lucuti senjatanya. Sutawijaya membebaskan Dipati Mayang.

Perbuatan Sutawijaya sudah di luar batas kesabaran Sultan Hadiwijaya.

Sultan Hadiwijaya memanggil puteranya Raden Benowo untuk mengerahkan bala pasukan Pajang untuk menggempur Mataram.

Sutawijaya telah menduga Sultan Hadiwijaya akan mengirimkan pasukannya.

Sutawijaya juga mempersiapkan pasukan Mataram. Sejak itu, Sutawijaya juga di gelari Panembahan Senopati Ing Alaga.

Pasukan Pajang Hadiwijaya nampak jauh lebih banyak di banding pasukan Mataram waktu itu. Di samping Sultan Hadiwijaya menaiki gajah tunggangannya. Sultan Hadiwijaya juga memiliki ilmu kanuragan sakti dan kuat.

Pada pertemuan kedua pasukan, pasukan Mataram terdesak dan kalah. Hingga Senopati Sutawijaya pun menyuruh pasukannya menyingkir sementara.

Sultan Hadiwijaya memberi perintah mengejar pasukan Mataram.

Tapi tiba-tiba, melalui takdir Ilahi, gunung Merapi meletus. Letusannya juga mengeluarkan wedus gembel. Dan juga dapat merusak paru-paru seketika, bahkan dapat menewaskan.

Banyak pasukan Pajang tewas terkena letusan Merapi.

Sultan Hadiwijaya tiba-tiba terjatuh dari gajah tunggangannya. Ia juga terluka dalam kena letusan gunung Merapi. Tapi karena punya kesaktian kanuragan dapat bertahan.

Sultan Hadiwijaya meneruskan perjalanan dengan di tandu. Di persimpangan ia menyuruh pasukannya singgah di makam Ki Sunan Tembayat di Klaten.

Di makam Ki Sunan Tembayat, Sultan Hadiwijaya memeluk nisan Ki Sunan Tembayat, sambil mengucap taubat.

Di pembaringannya Hadiwijaya kian sakit parah.

Hadiwijaya menyuruh puteranya Benowo untuk mengundang kakaknya, Sutawijaya.

Sutawijaya datang memenuhi undangan Raden Benowo.

Melihat kondisi Bapaknya, Hadiwijaya membuat Sutawijaya iba.

Hadiwijaya memegang tangan Sutawijaya. Dan mengatakan dengan suara lemah,”Aku sudah wareg. Mulai kini takhta Sultan Pajang kuberikan padamu. Kamu yang pantas memegangnya.”

Demikian Hadiwijaya menyatakan lengser keprabonnya dan menyerahkan takhta pada Sutawijaya.

Tapi Sutawijaya menolaknya dengan halus pada Bapaknya, Hadiwijaya. ” Saya tidak dapat menerima takhta. Lebih baik di berikan saja pada saudaraku, Benowo.”

Sejak itu pun Mataram meraih kemerdekaannya dari kekuasaan Pajang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s