68. Kota Jayakarta menjadi wilayah bawahan otonomi Sultan Banten

Krakatoa or Krakatau or Krakatao is a volcanic...

Krakatoa or Krakatau or Krakatao is a volcanic…

Sultan Maulana Hasanuddin sejak wafatnya Sultan Trenggono, menyatakan kedaulatan kemerdekaan kasultanan Banten, lepas ikatannya dari Demak. Dan bukan bawahan Demak, sejak di dirikannya. Melainkan berkedaulatan sebagai kasultanan merdeka. Bahkan ketika sejak Sunan Prawoto, putera Sultan Trenggono di tahbiskan menjadi Sultan Demak pengganti ayahandanya.

Sultan Maulana Hasanuddin bahkan telah menggenapkan penguasaannya di segenap Banten, sejak mengirimkan serangan ke Banten Girang/ Banten selatan.

Orang-orang pribumi Hindu Banten Girang, di biarkan tetap menganut agama dan tradisi adatnya, asalkan telah mengakui sebagai

English: A family of Baduy, Banten Indonesia.

English: A family of Baduy, Banten Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

warga bawahan kasultanan Banten. Orang-orang pribumi Hindu tersebut juga di sebut suku Baduy.  Orang Baduy juga cinta damai, asalkan jangan di usik.Begitu pun Sultan Banten, cinta damai, dan cinta kesejahteraan. Juga ingin bebas merdeka.

Tapi kemudian suku Baduy berkembang menjadi 2 kelompok, Baduy dalam dan Baduy luar. Baduy luar yang masuk Islam. Dan masuk Islamnya bukan dengan paksaan, apalagi kekerasan, melainkan karena terpengaruh syi’ar,  dakwah Islam dan kebaikan umat Islam di lingkungan masyarakat sekitarnya, hingga memikat kesadaran hati nuraninya. Seperti cara Nabi Muhammad SAW., ketika bertemu penduduk Tsaqif. Dan Islam memang bukan agama paksaan. Melainkan agama nasihat dan rahmatan lil’aalamin, idealnya.

Kasultanan Banten semakin berkembang lebih besar dari kerabatnya kerajaan Cirebon.

Dan kota Jayakarta pun di ambil masuk menjadi bawahan kasultanan Banten.

Welcome to Jakarta!

Welcome to Jakarta! (Photo credit: Luluk)

Sultan Maulana Hasanuddin hendak meluaskan wilayah kasultanan Banten. Beliau hendak mempersiapkan ekspedisi ke Sumatera. Tujuannya untuk menguasai wilayah rempah-rempah.

Sejak ekspedisi Spanyol dan Portugis tiba di Maluku, hingga menguasai Malaka, jadi menguasai perdagangan rempah-rempah di kawasan Asia Tenggara. Demak melakukan ekspedisi militer berkali-kali ke Malaka untuk menaklukkan Portugis.

Karena di Demak malahan terjadi perang saudara gono-gini antar keturunan Raja Demak, membuat Sultan Maulana Hasanuddin yang posisi kasultanannya sedang kuat hendak menggantikan tujuan Demak, sejak Sabrang Ler/ Sultan Demak II Yunus.

Sultan Maulana Hasanuddin juga telah menguasai wilayah yang pernah di kuasai kakeknya dimasa Pajajaran Prabhu Siliwangi, yakni di Jepara.

Sedangkan di Demak sedang terjadi huru-hara perang saudara sejak beberapa generasi antar kubu Sunan Prawoto dengan pamannya, Pangeran Seda Lepen. Kemudian muncul Arya Penangsang putera Pangeran Seda Lepen membalaskan kematian ayahnya.

Hingga mengamuk menggempur Demak. SunanPrawoto tua yang kabur ke Semarang, tewas ketika bertahan menghadapi serangan pasukan Arya Penangsang.  Arya Penangsang setelah menguasai Semarang kemudian meneruskan pendudukannya di Kalinyamat.

Fatahilah telah di undang Ki Sunan Gunung Jati, ketika tiba-tiba puteranya Muhammad Arifin yang telah di angkat sebagai Sultan Cirebon, wafat di usia muda.

Fatahilah sebelumnya pergi ke Gunung Sembung menemui Syekh Ki Bentong, bapaknya alm. Raden Patah Sultan Demak I.  Fatahilah menyampaikan kekecewaanya pada perang saudara perebutan takhta yang terjadi di Demak.

Kemudian ketika menghadap Ki Sunan Gunung Jati, di minta untuk membantunya membangun benteng di Cirebon dari kesiagaan menghadapi serangan Arya Penangsang. Fatahilah dan Ki Sunan Gunung Jati membangun benteng Sunyaragi.

Kapal-kapal armada Banten di persiapkan.

Sultan Maulana Hasanuddin menitipkan pesan pada menantu dan keponakannya, Tubagus Angke, untuk menjaga wilayah sekitar pesisir Ancol hingga Muara Karang ( Jakarta barat-Jakarta utara kini). Sultan Maulana Hasanuddin juga menitipkan kota Jayakarta pada Tubagus Angke yang juga bergelar Pangeran Wijayakrama I/ Pangeran Jayakarta I.

Ki Sunan Kudus membela Arya Penangsang. Ki Sunan Kalijaga membela Joko Tingkir. Bahkan sempat berhadap-hadapan saling mengacungkan keris pusaka andalan antara Arya Penangsang  membanggakan keris Kyai Crubuk dengan Dipati Joko Tingkir yang mengacungkan keris pusakanya Kyai Setan Kober.

Pemberontakan Arya Penangsang dapat di kalahkan oleh orang-orangnya Dipati Jaka Tingkir. Yaitu Ki Gede Pemanahan dan puteranya Sutawijaya, dan Ki Panjawi. Bahkan putera Ki Gede Pemanahan, Sutawijaya yang berhasil menancapkan tombaknya ke Arya Penangsang, setelah sebelumnya di sungai terjebak perangkap kena ratusan tembakan pasukan anak panah yang telah di siapkan.

Arya Penangsang tetap melakukan perlawanan alot. Di samping ia juga memiliki ilmu kebal. Tapi ketika Sutawijaya tiba-tiba muncul menghunjamkan tombaknya Ki Plered. Arya Penangsang momok sakti dan kuat yang selama ini di takuti, ambruk. Tewas.

Tewasnya Arya Penangsang biang kerok pengancam ketenteraman, membuat mempermudah misi Sultan Maulana Hasanuddin.

Beberapa waktu kemudian, Ki Sunan Gunung Jati wafat di usianya ke 109 tahun. Dan di makamkan di Gunung Sembung. Dekat setelah wafatnya Ki Sunan Gunung Jati, Ki Fatahilah wafat, dan di makamkan di samping makam Ki Sunan Gunung Jati.

Bahasa Indonesia: Peta sejarah Kesultanan Bant...

Bahasa Indonesia: Peta sejarah Kesultanan Banten 1527–1813) Jawa bagian Barat. Dibuat dan disempurnakan berdasarkan “Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia”, PT Pembina Peraga Jakarta 1996. (Photo credit: Wikipedia)

Dengan pengaruhnya, Sultan Maulana Hasanuddin menguasai Lampung tanpa berperang.

Kebetulan sesuai dengan tujuannya untuk mencari untung dan mengembangkan kesejahteraan negerinya.

Sultan Banten pun mendapatkan wilayah rempah-rempahnya sejajar keberadaan Sultan Palembang dan Sultan Aceh.

Aceh menurut catatan sejarah, memproduksi 1/3 lada dunia.

Sultan Banten mendirikan perusahaan rempah-rempah, Pamarican. Bahkan perusahaan pabrik rempah-rempah ini pernah kondang sebagai perusahaan rempah-rempah terbesar tingkat internasional.

Jauh sebelum berdirinya VOC ( kongsi dagang termasuk rempah-rempah didirikan oleh Belanda) dan EIC ( kongsi dagang Inggeris). Adapun nantinya karena masuknya penjajahan dan manipulasi penjarahan Belanda, hingga monopoli EIC melalui kolonialisme, Pamarican hilang.

Di Bengkulu, Sultan Aceh, Burhanuddinsyah mengirimkan ekspedisi pasukannya. Walau berhasil menguasai sebagian Bengkulu, tapi Sultan Bengkulu tetap bertahan. Aceh gagal menaklukkan Sultan Bengkulu.

Tapi Sultan Aceh tetap menghargai kekuasaan Sultan Banten di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s