67. Bupati I Jayakarta, Fatahilah menyerahkan jabatan pada Tubagus Angke

BABAD SUROSOWAN – ILUSTRASI KRONOLOGI. DI SUSUN OLEH TUBAGUS ARIEF Z

Sayangnya Fatahilah tidak untuk selamanya memerintah kota Jayakarta.

Tenaganya selalu di perlukan untuk kepentingan tugas yang lebih besar. Sering dia dan isterinya menghadap Sultan Trenggono di Demak.

English: i took this picture on 2006.

English: i took this picture on 2006. (Photo credit: Wikipedia)

Bantam (Banten) Xacatara (Jayakarta) Cherebum ...

Bantam (Banten) Xacatara (Jayakarta) Cherebum (Cirebon) Taggal (Tegal) Margam (Semarang) Damo (Demak) Iapara (Jepara) Tubam (Tuban) Sodaio (Sedayu, now near Gresik) Surubaya (Surabaya) (Photo credit: Wikipedia)

Pada tahun 1547 Fatahilah bersama bala tentaranya memperkuat pasukan Demak. Mereka merupakan kekuatan gabungan dalam memerangi pasukan Pasuruan.

Tujuannya untuk menguasai kerajaan Blambangan.

Pihak musuh sudah berhasil di pukul mundur. Sultan Trenggono senang sekali mendapatkan kemenangan. Hari itu juga kemenangan tersebut di rayakan dengan pesta. Turut pula di gelar pertunjukan rakyat yang meriah.

Tiba-tiba seorang penari topeng maju ke depan lalu dengan cepat dia menyerang Sultan Trenggono menggunakan belati yang tersembunyi.

Sultan Trenggono gugur.

English: The mosque of Demak Nederlands: Foto....

English: The mosque of Demak Nederlands: Foto. De moskee van Demak (Photo credit: Wikipedia)

Fatahilah membawa jenazah raja pulang ke Demak, kemudian di makamkan dengan upacara besar di halaman samping Masjid Agung.

“Mengapa sampai terjadi? Mengapa tidak cermat kujaga keselamatannya?” kata Fatahilah kepada dirinya sendiri.

Peristiwanya begitu cepat. Mungkin itu yang sudah di takdirkan Tuhan.

Ratu Ayu Pembayun juga amat sedih. Tiap hari dia datang ke makam Sultan Trenggono, abangnya yang tercinta.

“Beginilah hasil berperang. Saudaraku sendiri menjadi korbannya,” keluh Ratu Ayu Pembayun dengan sedih.

” Karena itu,” katanya lagi di tujukan kepada suaminya,” Jangan lagi berperang. Beristirahatlah. Menjadi rakyat biasa jauh lebih baik.”

Fatahilah terkejut.

“Maksudmu bagaimana, Dinda Ayu?,” tanya Fatahilah.

Ratu Ayu Pembayun diam.

Fatahilah seperti sudah mengerti dengan apa yang di maksud oleh isterinya.

” Aku memang sudah memikirkan soal itu, Dinda Ayu,” katanya kemudian dengan suara pelan.” Aku tidak akan selamanya hidup dengan menyandang pedang. Bagaimanapun aku telah banyak membunuh orang. Dari segi tugas kerajaan keadaan itu baik. Aku memperoleh kemenangan besar. Bala tentara yang ku pimpin senang. Tapi bagi diriku sendiri?

Keadaan ini selalu mengganggu pikiranku. Bahkan, sebelum berangkat ke Pasuruan, sudah pula terpikirkan olehku. Sudah masanya bagiku mundur dari takhta. Ya, kau benar Dinda Ayu. Sebaiknya kita sekarang siap-siap untuk kembali ke Jayakarta. Kita sudah lama berada di Demak.”

Dengan iring-iringan korap yang kuat, Fatahilah meninggalkan kota Demak.

English: The mosque of Demak Nederlands: Repro...

English: The mosque of Demak Nederlands: Repronegatief. De moskee van Demak (Photo credit: Wikipedia)

English: Intip (rice snack), Cirebon, West Jav...

Jayakarta around 1605–8, before its complete e...

Jayakarta around 1605–8, before its complete eradication by the Dutch, showing earlier pre-colonial structures before Batavia was founded. (Photo credit: Wikipedia)

Dua minggu kemudian sampai ke Jayakarta.

Fatahilah langsung menemui Tubagus Angke. Pemuda ini berdarah Cirebon dan Banten. Ayahnya bernama Abdurrahman. Ia keponakan Sunan Gunung Jati. Pernikahan Abdurrahman dengan saudara ( kakak) perempuan Sultan Maulana Hasanuddin melahirkan Tubagus Angke.

“Sudah saatnya kau memimpin rakyat Jakarta, Ananda Angke,” kata Fatahillah.” Maka, terimalah tampuk pemerintahan di atas pundakmu.”

Agak terkejut juga Tubagus Angke menerima amanat dari Fatahillah. Tetapi, dia seorang pemuda yang penuh gairah hidup. Dia melihat kota Jayakarta sudah mulai mekar.

Pelabuhannya banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari negeri-negeri yang jauh, dan juga jung-jung besar dari Cina.

Pada saat itu Fatahillah seperti terpanggil untuk bergabung dengan Sunan Gunung Jati.

Fatahillah benar-benar telah menyimpan pedangnya. Kalau dulu dia menjabat sebagai panglima perang, tetapi sejak mengabdi kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon dia menjadi panglima kebajikan.

Kegiatannya setiap hari adalah melayani orang-orang yang sengsara hidupnya.

Sawah dan ladang yang luas di buka di sekitar istana Sunan Gunung Jati.

Di situ mereka yang tidak mempunyai pekerjaan di suruh untuk menanam padi dan palawija.

Bila saat panen tiba, mereka akan memetik dan menerima bagiannya yang sesuai.

Mereka yang sesat dan jahat di beri fatwa-fatwa berdasarkan Qur’an dan Hadits Nabi.

Mereka yang sakit di carikan obat. Penerangan yang berhubungan dengan kesehatan di tingkatkan.

” Sucikanlah dirimu lima kali dalam sehari,” kata Fatahilah tidak kunjung henti kepada murid-muridnya. Juga kepada mereka yang berobat. ”

Paling sedikit kalian akan bersih dari debu. Terhindar dari kuman-kuman penyakit yang menempel pada kulit.

Hati yang kotor ikut sirna. Berganti dengan hati yang tulus. Pikiran tenang.

Keadaan yang demikian merupakan saat yang sebaik-baiknya untuk bersujud di hadapan Tuhan.”

Murid-murid dan mereka yang tersesat mendapat penyuluhan tiap hari. Di ajarkan sendiri oleh Fatahillah.

“Ayahanda senang sekali atas kehadiran Ananda di sini,” kata Ki Sunan Gunung Jati.

” Lihatlah orang-orang itu. Mereka berduyun-duyun memasuki gerbang. Pancuran-pancuran harus di perbanyak supaya mereka bisa bersuci dengan tidak berdesak-desak.

Mudah-mudahan bahan makanan kita cukup untuk menjamu mereka.”

” Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita mendapat Ayahanda,” jawab Fatahillah.

“Alhamdulillah,” Sambut Ki Sunan Gunung Jati.

Setelah itu, Ki Sunan Gunung Jati memanggil penulis babad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s