66. Panji Macan Ali menguasai kota Surakarta jadi Jayakarta

Bendera Macan Ali.jpg

Bendera Macan Ali.jpg

macan ali

panji macan ali

Bahasa Indonesia: Wilayah historis kerajaan Su...

Bahasa Indonesia: Wilayah historis kerajaan Sunda, Galuh, hingga Kerajaan Sunda Pajajaran. (Photo credit: Wikipedia)

Sunda Kelapa, tahun 1527

Raja Sangiang sedang di kerumuni mantri dalem, tumenggung, syahbandar, dan opsir-opsir perwakilan Portugis yang berasal dari kota Malaka.

” Kita harus memperkuat Pelabuhan Sunda Kelapa,” kata Raja Sangiang.

“Lalu, apa yang harus Paduka lakukan?”, tanya Pinto, opsir Portugis.

Raja Sangiang berpikir sebentar.

“Kapal-kapal perang Tuan bisa di manfaatkan,” jawab Raja Sangiang.

“Maksud Paduka?” tanya Barboza, opsir Portugis lainnya.

“Kapal Tuan bermeriam. Hal itu seperti benteng di laut. Bisa di tempatkan di mana suka.”

“Baiklah, Paduka. Hamba akan susun sebaik-baiknya,” jawab Sebastian de Rogo.” Pokoknya kokoh. Tidak satu lubang semut pun yang kami biarkan terbuka. Pasti armada Fatahilah terjebak !”

Raja Sangiang tertawa gembira. Ikut tertawa pula mantri dalem, Tumenggung dan Syahbandar. Setelah itu terdengar suara kecapi di petik.

Kemudian di susul lagu dengan gesekan rebab, pukulan gendang, dan bunyi gong.

Sepuluh orang penari istana lalu tampil di pelataran.

Mereka menarikan tarian Sunda. Sungguh indah. Penarinya cantik-cantik. Sayang hari itu malam terakhir bagi tamu-tamu Portugis. Besoknya, pagi-pagi sekali, mereka harus berangkat guna mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kembali kepada iring-iringan korap Demak yang di pimpin Fatahilah. Armada perang tersebut sudah melewati utara Mauk.

Panglima Fatahilah pandai memperkirakan waktu dan jarak. Kapal-kapal korap segera mengambil posisi.

Pulau-pulau di sebelah timurnya sudah mulai tampak. Makin lama makin jelas. Tidak lama kemudian, tampak pula kapal-kapal Peringgi. Dengan mendadak angin menjadi ganas. Hembusannya amat besar. Fatahilah cepat berteriak.

“Turunkan layar!” perintahnya kepada masing-masing korap.

Setelah itu mereka menambatkan korap-korapnya di balik pulau kecil.

Armada Fatahilah berlindung dari topan yang tiba-tiba ganas. Tidak demikian dengan kapal-kapal Peringgi.

Layar tetap terpasang ketika prahara makin mengamuk. Kapal-kapal itu terpukul batu karang dan tenggelam. Fatahilah dan pasukannya dengan mudah menangkap dan menawan mereka.

Salah seorang opsir Peringgi di paksa menyerahkan peta rahasia. Di dalam peta tertera penempatan pasukan-pasukan yang mempertahankan Sunda Kelapa. Dengan cermat peta itu di pelajari oleh Fatahilah. Perwira-perwiranya segera menyebarkan kekuatan.

Fatahilah sendiri mendarat di sebelah timur Sunda Kelapa, lalu dengan menunggang kuda hitam dia memimpin penyerangan ke kubu-kubu musuh.

Pertempuran tidak semudah yang di sangka. Sangiang mempertahankan keraton dengan mati-matian. Akhirnya, ia tewas di medan perang. Demikian juga mantri dalem dan tumenggung. Syahbandar terluka. Ia menjadi tawanan Fatahilah. Raja Surawisesa menggantikan Sang Ratu Jayadewata.

Raja Pajajaran ini mengamuk di Sunda Kelapa. Ia dan prajuritnya banyak menjatuhkan pasukan Demak. Pertempuran terjadi di Ancol dan juga di Tanjung.

 

 

 

 

 

 

Sunda Kelapa Harbour

Sunda Kelapa Harbour (Photo credit: duabelas)

English: Maulana Yusuf's grave, Pakalangan Ned...

English: Maulana Yusuf’s grave, Pakalangan Nederlands: Foto. Begraafplaats Maulana Yusuf, Pakalangan (Photo credit: Wikipedia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s