1950-1964

Greater Indonesia or in the Malay language, In...

Greater Indonesia or in the Malay language, Indonesia Raya or Melayu Raya was a political concept that sought to bring the so-called Malay race together by uniting the British territories on the Malay Peninsula and Borneo that formed Malaysia with the Dutch East Indies (Indonesia). It was espoused by students and graduates of Sultan Idris Training College for Malay Teachers in the late 1920s, and individuals from Sumatra and Java including Muhammad Yamin and Sukarno in the 1950s. (Photo credit: Wikipedia)

Pembebasan Irian barat trikora
Pembebasan Irian barat trikora

1957

Di 1950-an, (Alm) Raden Mataram (Pakde) Mudji Pratomo menjadi mahasiswa UI yang mendapatkan bea-siswa meneruskan kuliah Agriculture Engineering (Insinyur Pertanian) di Universitas Michigan, Amerika Serikat.

Raden-raden Mataram dulu cerdas-cerdas dan meraih prestasi tinggi di sekolahnya. Mungkin regenerasinya kemudian kalah dengan regenerasi terdahulunya. Dan kemerosotan bangsawan Mataram ke regenerasi kini di indeks prestasi, entah jadi tanda keperihatinan pula pada para orang-orang tua Mataram di masa kini. Dan jadi pertanyaan instrospeksi, apa partisipasi bantuan segenap orang tua dan keluarga besar Mataram? Atau malah jadi ulangan pralaya antar wangsa Mataram di masa hingga terjadinya perjanjian Giyanti. Jadi Sutawijaya atau masa pralaya Mataram.

Padahal memasuki sejak  masa orla, regenerasi Raden-raden Mataram telah tersebar hingga di kebangsawanan Banten.

Nabi Muhammad SAW., bersabda,” Belum sempurna iman seseorang, jika ia belum bersedekah pada kerabatnya.”

Ironisnya beberapa tahun kemudian (alm.,) kakak sulung perempuan mengomeli dan menyinggung soal biaya bekal (Pakde) Mudji kuliah di Amerika Serikat. Padahal dapat beasiswa sebagai mahasiswa Indonesia berprestasi.

  • Sudut (almarhum ayahanda) Raden Mataram R. Teguh Pratomo ( 1937-1999)

Di usia nya ke-20 tahun, R. Teguh Pratomo meninggalkan kuliahnya dari Fakultas Kedokteran dan pindah masuk Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang . Dan masuk fakultas kedokteran dulu atau kini juga mesti sebelumnya lulus dengan nilai tinggi.

Semula ia mendaftar masuk Angkatan Udara, karena ingin menjadi pilot pemburu, seperti idola dan adik iparnya, Ignatius Dewanto.

Dan ia di wajibkan mengikuti Pendidikan Dasar Militer selama setahun awal kuliah-militer.

Di masa awal Pendidikan dasar militer, ia bertemu seangkatan Try Soetrisno. Try Soetrisno berusia lebih tua beberapa tahun dari R. Teguh Pratomo.

Seperti di tulisannya, Try Soetrisno mengaku sempat telat memasuki masa kuliah, lantaran di masa pemerintahan Hindia Belanda, ia sangat miskin, hingga mesti bekerja mencari nafkah, termasuk dengan berjualan koran.

Adapun R. Teguh Pratomo sejak bayinya, jatah warisan dari ayahnya di curi oleh pengasuhnya. Mestinya dari bapaknya ia di tinggali warisan bak kekayaan konglomerat, meliputi bank, rumah sakit.

Kemudian tinggal sisa puing rumah gedong, halaman,  sawah di Majenang/ Majalaya, Cilacap, dekat pemandangan gunung Ciremai.

Di foto hitam putih, nampaknya R. Moelyopratomo dulu pernah punya juga mobil klasik jenis Ford. Jaman dulu cuma sedikit orang bumiputera bisa punya mobil.

Dan dari cerita meninggal mendadaknya Pak Tir, pengurus kebun di Petanahan, sebelumnya ketitipan pusaka berupa tombak peninggalan R. Moelyopratomo. Katanya R. Moelyopratomo juga bak Raden Mataram dulu yang juga punya kesaktian.

Menurut cerita, R. Teguh Pratomo ketika lahir di Petanahan, Kebumen, 1937. Kemudian kebetulan oleh ayahnya, Raden Moelyopratomo di ajak sekeluarga pergi dari rumah gedongnya di Petanahan.

Dan kebetulan juga di 1937 terjadi pengeboman pesawat-pesawat Belanda di sekitar Kebumen. Bom-bom pesawat termasuk mengenai rumah gedong keluarga R. Moelyopratomo. Hingga hancur, tinggal sisa lantai, tangga lantai, dan beberapa keramik asli buatan Italia, bermotif ornamen Jawa.  Raden Moelyopratomo dulu memesannya khusus langsung dari Italia, dengan desainnya.

Dan dari sebuah blog, terdapat cerita, mengenai sejak di bukanya pangkalan militer Belanda di Australia, kemudian melakukan latihan perang melintasi pantai Karang Anyar, yang dekat wilayah Petanahan. Kemudian melepaskan bom-bom dan tembakan dengan dalih latihan perang, walau mengenai sawah, kebun, hingga rumah penduduk.

Kemudian ayahnya wafat di masa ia masih bayi. Dan pengasuhnya malahan mencuri bagian harta warisnya. Hingga membuat R.

The Surakarta (Solo) Bride in traditional Dhod...

The Surakarta (Solo) Bride in traditional Dhodot (Basahan) Javanese wedding costume. The bride is richly decorated with jewelry and her hair is intricately adorned with melati putih (Jasminum sambac) flower arrangements. Melati putih is the national flower of Indonesia. Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. (Photo credit: Wikipedia)

Teguh Pratomo pindah di asuh ibunya, R. Moeghirah Moelyowihardjo yang telah menikah lagi dengan Raden Surakarta.  Tapi setelah pindah ke rumah ayah tirinya, R. Teguh Pratomo merasa di besarkan dengan diskriminasi dan kekerasan pada anak. Dan Raden Jawa dulu juga keras, di samping kekecewaan ibunya pernah bercerai dengan bapaknya ( kakek) Moelyopratomo yang juga menikah lagi dengan ( eyang) puteri Surakarta ( bibinya ibu Siti Hartinah Soeharto).

Seperti pernah ketika bersepeda bersama kakaknya, sepedanya tiba-tiba menabrak dan rusak. Dan yang di salahkan dan di hukum cuma R. Teguh Pratomo. Atau ketika makan bersama, R. Teguh kecil mesti makan di tempat pembantu.

R. Teguh Pratomo di kenal oleh teman-temannya waktu di militer, sebagai anak muda yang nakal. Bahkan kadang pernah bersama sebagian temannya membolos dari kampus militer di Magelang.

Setahun setelah mengikuti pendidikan dasar militer, R. Teguh Pratomo di pindah jurusan ke Angkatan Laut. Di pindahkannya juga membuat bekas kekecewaan dalam dirinya. R. Teguh Pratomo di pindahkan ke AL, karena pihak medis militer menemukan ia punya penyakit turunan ( dari ibunya ). Dan berjenis golongan darah A. Tapi R. Teguh karena orangnya nakal, jika walau di larang dokter pada larangan tertentu, tetap saja melakukan apa yang di sukainya sejak dulu, seperti makan es krim. Atau tongseng (dari daging kambing dengan kecap manis, seperti yang ada di Yogya). Tapi ia tidak merokok. Cuma di waktu mudanya saja. Dan waktu menemukan anak-anaknya merokok, ia malahan mengambil sebungkus dan nampak merokok di halaman teras depan rumah. Cuma sekali itu saja.

(Bapak) R. Teguh Pratomo juga di beritahu dokter kena penyakit asam urat, seperti (alm) kakak, maka kena pantangan makan toge. Tapi penulis tidak. Padahal jenis darah sama, A. Dan bapak R. Teguh P., juga pakai kacamata seperti ibu, atau Mbah Moegirah Moelyowihardjo, juga seperti sebagian tentara, dan orang-orang mulai berusia tua. Tapi penulis belum, karena sejak kecil di beri Ibu makan wortel.

Tapi R. Teguh Pratomo bertahan, bahkan hingga ia lulus kuliah di AMN, Magelang memperoleh pangkat Letnan (AL).

Di tahun 1963, R. Teguh Pratomo sempat ikut di kirim perang pembebasan Irian Barat, untuk melawan sisa penjajahan Belanda dan sekutunya AS di Papua. Waktu itu buat pasukan Indonesia beratnya menghadapi kekuatan pasukan dan utamanya senjata AS.

Panglima misi pembebasan Irian barat, ialah Mayjen (AD) R. Soeharto. Markas komandonya di Sulawesi.

Dari Wikipedia juga di temukan Mayjen R. Soeharto masih turunan hadiningrat Mataram, dari selir Sultan HB V. Demikian juga R. Teguh Pratomo dari ibu (Mbah puteri) Moegirah Moelyowihardjo.

Pasukan TNI-AL di tempatkan di garis depan. Karena untuk menembus ke Papua mesti melewati hadangan kapal-kapal perang Amerika Serikat yang besar-besar dan bersenjata berat.

Komandan Angkatan Laut ialah Kolonel AL (alm) Sudomo waktu itu.

Dan kapal KRI Macan tutul yang di pimpin Letnan satu ( AL) Yos Soedarso dan asisten Letnan dua Wiratno berhadapan dengan kapal unggulan AS.

KRI Macan tutul yang berukuran lebih kecil maju gagah berani menghadapi kapal raksasa unggulan AS.

KRI Macan tutul melakukan perlawanan sengit, tapi tak sempat berkelit terkena tembakan torpedo AS.

KRI Macan tutul pun sempat terbakar. Lettu Yos Soedarso sempat melakukan kontak. Tapi KRI Macan tutul sudah tidak dapat tertolong lagi. KRI Macan tutul pun tenggelam.  Tapi gugur satu tumbuh seribu. Lettu Yos Soedarso dan Letda Wiratno jadi pahlawan. Pangkatnya di naikkan setingkat, Kapten Yos Soedarso dan Lettu Wiratno.

Perlawanan sengit tetap di lakukan pasukan Indonesia. Walau kapal-kapal Indonesia lebih kecil, tapi mengandalkan kecepatan tiba mendarat di tanah Papua.

Kemudian perang pun di susul juga dengan pertempuran pesawat tempur.

Pasukan Indonesia yang mendarat  berhasil menguasai Papua. Belanda yang terdesak kabur.

Sebagian tentara Indonesia yang  telah lama berjaga di kapal selam, tertangkap oleh patroli kapal militer AS. Setelah di tawan, kemudian di bebaskan, karena mengikuti perjanjian internasional. Di mana, Papua resmi di kembalikan ke Indonesia.

English: Location map of Indonesia. Equirectan...

English: Location map of Indonesia. Equirectangular projection. Strechted by 100.0%. Geographic limits of the map: N: 6.5° N S: -11.5° N W: 94.5° E E: 141.5° E Made with Natural Earth. Free vector and raster map data @ naturalearthdata.com. (Photo credit: Wikipedia)

Orang papua ada yang ikut bersimpati mendukung kesatuan dengan Indonesia. Sebagian dari minoritas masih pertimbangan.

Dan di pembukaan UUD 45, tercantum bangsa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan.

Statue erected to celebrate the inclusion of W...

Statue erected to celebrate the inclusion of West Papua into Indonesia (Photo credit: Wikipedia)

Dan perundingan kini adalah internal antara   kesepakatan Indonesia dengan bumiputera Papua.

Papua Island

Papua Island (Photo credit: saifulmuhajir)

Di Papua barat sekitar Sorong, juga terdapat kerajaan Islam, Kaimana. Kaimana ini masih keturunan dari Sultan Ternate. Dan Kaimana masuk ke perwakilan Papua yang mendukung masuk ke kesatuan negara Republik Indonesia.

English: Coat of Arms (Lambang) of Regency (Ka...

English: Coat of Arms (Lambang) of Regency (Kabupaten) Kaimana, Provinsi Papua Barat, Indonesia (Photo credit: Wikipedia)

English: Coat of Arms (Lambang) of Provinsi Pa...

English: Coat of Arms (Lambang) of Provinsi Papua Barat, Indonesia; former name of this province is Irian Jaya Barat (Irian Jaya is the Bahasa Indonesia name of the island of New Guinea, ‘Barat’ is West; Papua is the traditional name of the island) (Photo credit: Wikipedia)

Papua juga terdiri dari beragam suku, di antaranya terdapat suku primitif, suku Asmat.

Sekitar 80 % bumiputeraIndonesia timur mendukung masuk ke kesatuan negara Republik Indonesia. Juga dengan mengajukan pertimbangan syarat.

Syaratnya mereka tidak setuju dengan Sila  Pancasila waktu itu, Negara berdasarkan Syahadatain.

"Garuda Pancasila with the motto Bhinneka...

“Garuda Pancasila with the motto Bhinneka Tunggal Ika” (Photo credit: Wikipedia)

Maka melalui petimbangan, Pancasila menjadi : Sila 1 menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila 2 Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kontroversi yang terjadi di Papua di mulai sejak terjadinya transaksi keberadaan perusahaan PT. Freeport yang di kuasai sahamnya oleh AS sebagai pemilik tambang berharga di Papua, juga akibat perbuatan dari oknum pemerintah RI.

Pada 1964, R. Teguh Pratomo menghadiri pesta pernikahan kakak perempuannya di Solo. Di sana hadir juga Komodor AU, Ignatius Dewanto, nampak di foto mengenakan pakaian militernya.  R. Teguh Pratomo datang dengan jas, dasi dan celana hitam, dan berpotongan rambut masih cepak ala tentara.

Sebelumnya telah lama R. Teguh Pratomo tidak  bertemu dengan keluarga saudaranya ( cerita dari kakak sepupu dari Solo). Padahal kuliahnya di sekitar Jawa Tengah. Kakak sepupu Solo ketika datang kerumah di 1999, pernah berkata sambil tertawa, Bapakmu hebat lo dulu jadi tentara. Waktu itu penulis juga baru lulus kuliah. Kakak sepupu Solo, Mas Danang, waktu itu bekerja di PLN.

Di tengah pesta nikah, tiba-tiba datang polisi militer menanyakan R. Teguh Pratomo. Tujuannya memberitahukan, bahwa ia mesti menyelesaikan urusan administrasi.

Pada 1964, Presiden RI, Ir. Soekarno meresmikan pendirian Hotel Indonesia ( HI), di Jakarta Pusat. Waktu itu HI adalah satu-satunya hotel berbintang lima di Indonesia, dan masih termasuk BUMN-Indonesia.

R. Teguh Pratomo pernah mengaku bahwa pangkatnya terakhir adalah Letnan di Angkatan Laut.

R. Teguh Pratomo kuliah lagi di Jurusan Perhotelan yang di buka di HI.

Pertemuan dengan Ibunda Tati Murtasih

(Ibu) Tati Murtasih di tawari ( Nenek) Ibu Yo ( Siti Yohana Menara Saidah) melanjutkan sekolah dan tinggal di rumahnya di jl. Teuku Umar, Jakarta Pusat. Sebelumnya ia tinggal di rumah (Nenek) Ibunya di Jl. Pasirkudajaya, Ciomas, Bogor. Suatu wilayah permukiman keluarga Ratu terakhir kasultanan Banten di Bogor.

(Nenek) Ibu Yo ini ialah isteri Dr. Chaerul Saleh ( Datuk Paduko Rajo/ Pak Lung), yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri III, tangan kanan Presiden Soekarno. Waktu itu Dr. Chaerul Saleh juga menjabat rangkap sebagai Ketua MPRS, Mentamben, dan Menteri Pembangunan.

Waktu itu Perdana Menterinya ialah Dr. Syahrir, yang juga berasal dari PSI (Partai Sosial Indonesia). Dr. Syahrir juga sewaktu menjabat Perdana Menteri yang mendirikan POLRI. Awalnya POLRI di bawah Perdana Menteri. Maka Perdana Menteri, dan tiap Wakil Perdana Menteri termasuk Pimpinan POLRI. Bahkan Waperdam I Dr. Soebandrio juga menjabat sebagai Ketua Intelijen.

Dr. Chaerul Saleh juga punya wewenang memiliki anak buah Polisi dan intelijen.

Di waktu itu, bahkan Partai CC. PKI punya orang-orangnya juga di MPR, pemerintah hingga di militer.  Presiden Soekarno menerapkan demokrasi, sesuai pidatonya Nasakom, Nasional, agama, komunis di Indonesia.

Di 1964 telah memasuki masa Kabinet Revolusi, atau Kabinet Dwikora, atau Kabinet 100 menteri.

Tapi situasi ekonomi juga kacau, karena Indonesia baru saja menanamkan bibit-tonggak pembangunan negara, di samping juga masih melalui perang, menghadapi pemberontakan, separatisme hingga ekspedisi militer melawan penjajah barat, seperti di Irian Barat.

Pemberontakan di antaranya yang paling berbahaya dan paling menyebar di beberapa wilayah di Indonesia, adalah pemberontakan Darul Islam (DI) /TII, untuk menuntut Indonesia jadi negara Darul Islam. Seperti DI Daud Beureuh di Aceh, DI Kahar Muzakar di Sulawesi, dan DI Kartosuwiryo di Jawa.  Kahar Muzakar dan Kartosuwiryo berasal dari tentara. Tiap pemberontakan DI/TII ini sangat mengacaukan jalannya pemerintahan NKRI, setelah memproklamirkan sebagai kemerdekaannya NKRI.

Sebagian orang-orang Darul Islam Indonesia, kabur ke Malaysia, setelah di padamkan pergerakannya di masa Presiden Soekarno.

Padahal tujuan kemerdekaan hampir sama seperti apa yang di perjuangkan Nabi SAW., melawan penjajah dengan kejahatannya. Perang cuma buat memerangi kejahatan. Dan sabda Nabi SAW., Jihad utama adalah pernyataan keadilan. Dan Islam adalah agama nasihat dan agama rahmatan lil ‘alaamiin. Agama kesadaran bukan paksaan. Kewajiban cuma di amanat. Tegakkan keadilan dan keseimbangan. Sayangi dan maklumi orang miskin, karena kemiskinan itu mendekati kekufuran.

Makanya Soekarno sempat mengambil sumber literatur dari Syekh Ibnu Kholdun, penasihat di masa Sultan Mamaluk di abad 14m. Ajarannya Ashobiiyah ( Menghargai hak kebangsaan/ berbangsa bernegara). Pada Mukaddimah UUD 45. Di samping juga mencetuskan Nasakom. Tapi di awalnya pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Soekarno hanya menuliskan soal menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan politik luar negeri Indonesia, adalah bebas aktif .

Dulu Pak Karno bahkan merangkul setiap pemimpin kelompok, walau dulunya beroposisi. Bahkan tiap seniman bebas berkarya, hingga di dirikan LEKRA ( Lembaga Kesenian Rakyat), seperti lembaga yang berwenang kedudukan hukum di NKRI. Pelukis, perupa boleh berkarya membuat karya seni nudisme perempuan sekalipun. Dan perupa dulu masih berpaham romantik, nudismenya cuma pada perupaan perempuan. Justru kebanyakan perupaan nudismenya perempuan mancanegara. Dan jika di perhatikan seksama pelukis dan perupa Lekra justru kebanyakan melukiskan / merupakan realita sosial di masanya. Di antaranya ada juga yang telah membuat jenis karya abstrak. Dan kaligrafi. Kebhinekaan di seni telah tercipta.

Ketika Kartosuwiryo tertangkap, Dr. Chaerul Saleh sempat perihatin padanya. Karena beliau juga mantan teman gerilya seperjuangannya di masa perang kemerdekaan melawan penjajah. Kartosuwiryo dulu Komandan batalyon Siliwangi, Chaerul Saleh komandan Lasykar Rakyat kemudian API ( angkatan Pemuda Indonesia).

Hingga Dr. Chaerul Saleh pernah juga kena keluhan dari teman partainya di MURBA ( Musyawarah Rakyat Banyak), Dr. AM. Hanafi yang mengeluhkan ia baru berumah tangga beranak dua masih kecil-kecil, yang termuda baru lahir, tapi gajinya kecil sebagai anggota MPR. ( sekitaran Rp 1 juta sebulan kini).

Dr. Chaerul Saleh sendiri, cuma punya 1 mobil pribadi. Itu pun dari beli bekas, yakni mobil sport VW Carmandhia. Jika ke kantor MPR waktu itu di Gedung Joang, Menteng 31 naik mobil dinas, yang juga bekas.

(Ibunda) Tati Murtasih juga melanjutkan sekolah tingginya di HI, mengambil jurusan kuliner.

Kuliah di HI waktu itu, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga sempat mengikuti kelas kuliah dan berasrama di Bandung.

Di Bandung, R. Teguh Pratomo memiliki banyak pacar. Dan tiap berkunjung ke pacarnya, singgah mengambil kembang yang di tanam oleh (Ibunda) Tati Murtasih.

Pada suatu waktu R. Teguh Pratomo jadi kepincut penanam kembangnya.

Pada 1964, di usianya ke-27 tahun, R. Teguh Pratomo dan Tati Murtasih ( di usia ke-25 tahun) menikah di rumah ibu mantennya, Neneng Murdinah di Jl. Pasirkudajaya, Ciomas, Bogor.

Dari Bogor ke Jakarta, R. Teguh Pratomo pulang pergi bekerja naik kereta api. Sementara ketika cuti hamil, ibunda tinggal bersama Nenek di Bogor.

R. Teguh Pratomo memulai dari bekerja sebagai resepsionis, kasir, hingga naik karirnya di angkat sebagai manajemen hotel Indonesia.

Ibunda Tati Murtasih tetap berkarir di kuliner di HI. Kemahirannya memasak, apalagi masakan Sunda, membuatnya termasuk sebagai ahli kuliner andalan di HI. Karena pewaris ahli masakan Sunda juga sangat memperkaya corak Hotelnya berbudaya khas Indonesia.

Sedangkan di akademi Hotel-hotel internasional, kebanyakan di suguhi dasar ilmu kuliner barat. Tapi kuliner khas daerah warisan langka turun temurun, sebelumnya belum masuk kurikulum dasar internasional.

Di 1965, lahir putera pertama kurang dari sembilan bulan. Putera pertama ini di namai Yayang Nurtanto. Putera pertama ini lahir seperti bobot bayi normal, sekitaran 2,9 kilo. Tapi mulai awal pertumbuhannya di tandai dengan sakit yang mengkhawatirkan.

Oleh teman-teman sesebayanya ia juga di juluki Biang anak, karena saking gendutnya.

Ketegangan antara Indonesia – Malaysia

Ketegangan di mulai ketika Perdana Menteri Malaysia mulanya  tiba-tiba melayangkan hinaan lantang pada Presiden Soekarno dan bangsa Indonesia.

Presiden Soekarno balas berorasi “Ganyang Malaysia”, para pemuda mahasiswa dan ormas ikut mendukung dan berdemonstrasi pada Malaysia.

Ketegangan semakin memanas antara Indonesia – Malaysia.

Pemerintah Indonesia terpaksa sekali lagi membuka pendaftaran relawan wajib militer ( wamil), misi Ganyang Malaysia.

Di antaranya mahasiswa ikut mendaftar menjadi relawan. Sebagian bahkan di tempatkan di skuadron pilot pemburu. Waktu itu Indonesia sudah punya pesawat jet tempur.

Malaysia mengadu pada Inggeris. Waktu itu kekuatan internal Malaysia masih kalah jauh dengan Indonesia.

Melalui jalur laut dan udara, Indonesia mengirimkan serangannya.

Malaysia kalah perang waktu itu. Tapi karena muncul bantuan pasukan, skuadron dan kapal-kapal militer Inggeris, sebagian pasukan Indonesia jatuh. Di antaranya terdampar masih selamat di Malaysia. Mungkin sebagian tertawan.

Di antara yang terdampar di selamatkan oleh penduduk setempat. Dan malahan di rawat oleh perempuan muda Malaysia. Kemudian menikah. ( Cerita film di perankan Deddy Mizwar).

Tapi Pemerintahan Soekarno kemudian bakal menghadapi bahaya yang lebih gawat, peristiwa gestapu/ gestok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s