64. Prabhu Siliwangi dan asal mula kerajaan Gunung Sepuh Banten dan Cirebon

Menurut sejarah Cirebon (Pangeran Sulaeman Sulendraningrat), di abad 7 sejak timbul kerajaan Banjaransari di daerah Rawa Lakbok, Banjar, dan Ciamis. Istana rajanya sekarang masih ada patilasannya, ialah patilasan Pameradan Ciungwanara, terletak antara Ciamis dan Banjar.

Rajanya bernama Adimulya, waktu kecil di sebut Pangeran Lelean Anom. Di ceritakan oleh leluhur-leluhur turun-temurun, bahwa Raja Adimulya memerintah dengan adil dan bijaksana. Waktu itu Banjaransari mengalami keemasannya. Rakyatnya tenteram dan makmur. Rakyatnya menganut agama Sang Hiang/ Hindu-Budha.

Sang Raja Adimulya wafat, lalu Raja Ciungwanara, seorang putera sulung naik takhta, kemudian setelah Raja Ciungwanara pemerintahan di lanjutkan oleh seorang puteri sulungnya, Ratu Purbasari.

Setelah Ratu Purbasari, berturut-turut naik takhta putera-putera keturunannya, ialah:

Raja Linggahiang

Raja Linggawesi

Raja Wastukencana

Raja Susuktunggal

Raja Banyaklarang

Raja Banyakwangi

Raja Mundingkawati

Raja Anggalarang dan

Prabhu Siliwangi

  • Masa kejayaan Pajajaran di masa Prabhu Siliwangi

Di sejarah Cirebon di sebutkan di masa Prabhu Siliwangi, pada tahun 1302 Anno Jawa kerajaan Pajajaran telah mengembangkan wilayah kekuasaannya hingga memiliki 3 daerah otonom bawahan Kerajaan Pajajaran yang masing-masing di kepalai oleh seorang Mangkubhumi.

Ketiga daerah otonom itu adalah :

1. Singapura/ Mertasinga yang di kepalai oleh Mangkubumi Singapura.

2. Pesambangan ( pantai Cirebon) yang di kepalai oleh Ki Ageng Jumajan Jati

3. Japura ( Jepara) yang di kepalai oleh Ki Ageng Japura.

Ketiga otonom ini mengirimkan bulu bekti/ upeti saban tahunnya kepada Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Mertasinga ini dulunya bernama Tumasik, ketika di kuasai Mojopahit masa Gajah Mada. Kemudian berganti di kuasai Pajajaran.

Maka tak heran jika di antara penunjuk kota Tasikmalaya, di sebelahnya terdapat juga kota Singaparna. Dan di ujung selatan Jawa Barat, di Cilacap terdapat kota Majalaya, di mana terdapat pemandangan gunung Ciremai.

Prabhu Siliwangi yang merupakan Maharaja tatar Sunda mempunyai beberapa anak dari kentring Manik Mayang Sunda yang merupakan anak dari Prabhu Susuk Tunggal yaitu Prabhu Sangyang Surawisesa yang merupakan Raja di Pakuan, dan Sang Surosowan yang di jadikan dipati di pesisir Banten Utara. ( Sumber internet-kerajaan Banten).

Sumber internet-kerajaan Banten ini jadi pertanyaan juga, dengan kerincian datanya, karena terdapat versi juga dari sejarah Cirebon tulisan Pangeran Cirebon Sulaeman Sulendraningrat yang lahir di Keprabon Cirebon pada 3 Juni 1913. Pernah juga dari sumber internet di sebut bahwa Pangeran Sebakingking/Maulana Hasanuddin tidak di sebut sebagai putera sulungnya Ki Syarif Hidayatuloh/ Sunan Gunung Jati, tapi Pangeran Cirebon, Pasarean/ Muhammad Arifin.

Seperti pertanyaan apakah Prabhu Siliwanginya orang yang sama, atau sama gelarannya seperti Prabhu Siliwangi yang menikah dengan Rara Subanglarang atau Prabhu gelar Siliwangi, Bapak Prabhu Siliwangi sebelumnya? Karena janggal juga membandingkan masa tahun pernikahan Prabhu Siliwangi dengan kentring Manik Mayang Sunda dan Rara Subanglarang. Atau putera Prabhu Siliwangi, Prabhu SangHyang Surawisesa dan Dipati Surosowan dengan Pangeran Cakrabuana, Rara Santang, dan Pangeran Sengara Kian Santang. Bisa berarti Syarif Hidayat putera Rara Santang menikahi Ratu Kawunganten atau saudara perempuan lain ibu, atau bibi atau uwaknya.

Atau kentring Manik Mayang Sunda isteri yang di nikahi Prabhu Siliwangi, sebelum/ sesudah kemudian menikah dengan Rara Subanglarang yang di jadikan permaisuri?

Dan kejanggalan di sebutnya Surawisesa sebagai Raja Pakuan Pajajaran putera sulung Prabhu Siliwangi, dan di sejarah Cirebon, Pangeran Cakrabuana juga di sebut sebagai Putera mahkota Pajajaran juga Rama Uwa.

Atau seperti di Wikipedia di halaman Ki ageng Selo, di sebut dari putera Bondan Kejawan. Dan Bondan Kejawannya di sebutkan masih meragukan dari putera Prabhu Bhre Kertabhumi / Prabhu Girindrawardhana.  Hanya karena di urutkan turunan Prabhu Blambangan Girindrawardhana yang merupakan sisa keturunan asli Prabhu Hayam Wuruk. Padahal jelas di Babad Mataram di sebut menantunya Sultan Demak III, Trenggono yang juga turunan dari puteri Sunan Giri ( peranakan Raja Blambangan dan putera Wali Maulana Malik Ibrohim, Sayid Ishak), di antaranya putera Ki ageng Sampang, Pangeran Kalinyamat, Pangeran Cirebon-Banten Maulana Hasanuddin, Joko Tingkir. Dan di babad Mataram pun terdapat pada peristiwa di Gresik, Sultan Mataram, Hanyokrokusumo menyebut pasukan Banten sebagai pasukan Bang Wetan. Yang berarti saidin Sultan Banten ialah Bang Wetan-nya Mataram di Mojopahit/  Gunung sepuh di silsilah kekeluargaan Raja-raja Jawa.

Padahal jelas-jelas di Babad tanah Jawi di sebutkan Raden Bondan Kejawan puteranya Prabhu Kertabhumi dari wandan. Dan urutan lahirnya setelah putera Kertabhumi sebelumnya, Raden Jimbun/ Raden Patah, Sultan I Demak.

Dan Prabhu Kertabhumi di silsilah Singosari-Mojopahit jelas tercantum dari turunan Wikramawardhana yang juga berasal dari turunan adiknya Prabhu Hayam Wuruk.

Tapi ada juga sumber internet, seperti dari aki balangtrang yang menyebut Maulana Hasanuddin ialah Gunungsepuh. Dan soal urutan tahun kelahiran putera-puteranya Ki Sunan Gunung Jati, terdapat di buku Sejarah Cirebon-PS Sulendraningrat, yang akan penulis tempatkan di bagian blog susunan Babad Surosowan-ilustrasi kronologi ini. Sesuai tujuan untuk penelitian untuk mendapatkan data sejarah/Jas merah yang sebenarnya. Di samping nantinya mungkin menjadi bagian dari naskah komik-historis Babad Surosowan, setelah juga mendapatkan data sejarah yang mendekati kebenaran.

Menurut sejarah Cirebon (PS. Sulendraningrat), Prabhu Siliwangi ini menikahi seorang puteri Mangkubhumi Singapura/Mertasinga Caruban bernama Rara Subanglarang, yang telah memeluk agama Islam dan beberapa tahun mesantren di Pengguron Islam Syekh Kuro Krawang, dengan syarat menikah secara Islam, yang mana Syekh Kuro yang bertindak sebagai Penghulunya dan di dudukkan di Keraton Pakuan Pajajaran sebagai Permaisuri dan di perkenankan tetap melakukan sembahyang lima waktu. Pernikahan Permaisuri Rara Subanglarang dari Prabhu Siliwangi di anugerahi tiga orang keturunan, ialah :

Pangeran Walasungsang Cakrabuana

Ratu Mas Lara Santang dan

Pangeran Raja Sengara/Kian Santang

Di sebut di sumber internet-kerajaan Banten, selama kurang lebih 1400 tahun sejak Salakanegara di Banten tidak ada kerajaan besar seperti yang berdiri di 1522, kasultanan Banten Darussalam. Bahkan dari bapak mertuanya, Demak sebagai penerus Mojopahit.

Kemudian alm. Tubagus Surosowan dari Bogor juga menyebut gelar Sultannya juga di sebut Kaisar, ketika seperti menyebut Mohammad Syafah turut meresmikan kemerdekaan AS, bersama Kaisar Louis XVI, di abad 17 m. Bahkan kekaisaran Banten menjadi kekaisaran adidaya dunia, yang bahkan belum pernah teraih kerajaan-kerajan di Nusantara Indonesia. Bahkan Malaysia dan Brunai Darussalam.

Melalui hubungan silsilah Pajajaran-Mojopahit, kasultanan Banten adalah juga gunungsepuh kakak sulungnya kerajaan-kerajaan yang tersisa kini di Jawa : Cirebon, Sumedang, Panjalu ( asal hubungan wangsa Kediri di Tasikmalaya), Pakubuwono, Surakarta, Mataram Ngayogyakarta. Bahkan dari penelusuran sejarah di temukan kasultanan Banten Darussalam memiliki 4 propinsi di wilayah kerajaannya, meliputi Propinsi Lampung ( Tulangbawang), Propinsi DI Banten, Propinsi DKI Jakarta, Propinsi Jawa Barat. 2 propinsi adalah Daerah Istimewa, dan salah satunya ibukota Negara Indonesia, yakni DKI Jakarta.

Di Indonesia, kerajaan yang punya wilayah ibukota negara/ pusat pemerintahan cuma kasultanan Banten. Berarti sesuai konstitusi negara UUD 45, BAB OTONOMI DAERAH, berbunyi “pemerintah, MPR/DPR wajib memandang asal-usul istimewa kedaerahan”, maka memiliki hak otonomi yang sangat istimewa mestinya. Bagaimana tidak, hak istimewanya juga secara konstitusi UUD 45 juga membawahi ibukota negara sebagai pemerintah pusat negara Indonesia. Berarti juga, Kaisar/Sultan Banten sama dengan Kaisarnya Indonesia.

Tapi di kenyataan kini, inkonsistensi dengan konstitusi UUD 45, realitanya juga terdapat. Seperti contoh di realita benturan antara Lembaga KPK dan lembaga POLRI. Padahal menilik konstitusi, Sultan Banten sebagai Kaisar, memiliki kekuasaan otoriter absolut di Indonesia. Misal bila menyuruh bebaskan Antasari Azhar, maka siapapun Presiden, POLRI, mesti tunduk perintah Kaisar Banten/ putera mahkota Kaisar Banten. Yang menentang yang justru inkonsistensi dengan konstitusi dasar hukum negara Indonesia di pasal 18 UUD 45, BAB Hak Otonomi Istimewa Daerah.

English: Astana Gunung Jati near Cheribon Nede...

English: Astana Gunung Jati near Cheribon Nederlands: Foto. Op deze foto is het Astana Gunung Jati te zien, waarin zich het graf van Sunan Gunung Jati bevindt.. Astana Gunung Jati bij Cheribon (Photo credit: Wikipedia)

Maka kedudukan Kaisar/Sultan Banten ini kedudukan sangat tinggi mestinya di Indonesia, tanpa perlu masuk menjadi anggota

MPR/DPR, pejabat pemerintah, atau partai tertentu misal seperti SultanMangkubhumi Mataram.  Yang khawatirnya justru dapat mengacaukan pertimbangan obyektifnya. Tapi cukup sebagai Kaisar Sultan yang berkedaton di tengah rakyat. Untuk berusaha obyektif / seimbang dalam menggunakan keputusan otonomi istimewanya sebagai Kaisar Gunungsepuhnya Indonesia. Dan dalam memutuskan keputusan otonomi Kaisarnya mesti dengan pertimbangan mendalam juga.

Justru sebagai pemilik hak otonomi istimewa Kaisar, sebaiknya punya partai sendiri, misal Partai Sejahtera Kemerdekaan Indonesia (PSKI). Sepanjang tidak bertentangan dengan apa nilai-nilai Indonesia sejak kemerdekaan/ mengisi kemerdekaan yang surat Proklamasinya cuma berbunyi,” Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang menyangkut pemindahan kekuasaan di lakukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Jas merahnya, tulisan naskah Proklamasi oleh Proklamator Soekarno-Hatta ini, sudah merupakan konstitusi paling dasar hukum negara Indonesia.

Benteng Surosowan benda cagar budaya

Benteng Surosowan benda cagar budaya

Komplek kasultanan Surosowan Banten lama

Komplek kasultanan Surosowan Banten lama

gapura bajang ratu mojopahit

gapura bajang ratu mojopahit

Sejak berdirinya Lembaga Wali Songo, juga menandai mencairnya tembok hubungan antara Pajajaran-Mojopahit, bahkan dengan Sumatera dan segenap wilayah Indonesia. Pusat tempat Lembaga Wali Songo adalah di Masjid Agung Demak, di masa Raden Patah sebagai Sultan Demak I.

Di masa Raden Patah, sebagai Sultan Demak justru memberikan tenggang rasa dan kemerdekaan pada setiap bekas wilayah Mojopahit.

Dan jika di sebut Raden Patah cuma memperhatikan warga Tionghoa muslim, juga kurang tepat. Karena dari sejarah juga memperlihatkan Raden Patah mendekati setiap penduduk. Bahkan sebelumnya sempat membiarkan kerajaan Blambangan, sebelum Prabhu Girindrawardhana menjalin kerjasama dengan Portugis yang waktu itu posisi penjajah.

Walau Raden Patah di sejarah juga nampak berlaku keras mengirimkan sanksi pada bekas musuh politik Demak, di perang Suronata-Mojopahit. Seperti pada Ki Ageng Tingkir, putera Andayaningrat-senopati Majapahit. Alasannya politik. Seperti ketika Sunan Kudus mengeksekusi Syekh Lemah Abang di Cirebon, di masa Ketua II Wali Songo, Ki Sunan Gunung Jati.  Di masa Ketua I Wali Songo, Ki Sunan Ampel mengajarkan Islam bukan agama paksaan, dan sebaiknya tetap sebagai agama rahmat dan memelihara perdamaian.

Sebenarnya bukan cuma Raden Patah, bahkan Sunan Gunung Jati juga, seperti ketika menghadapi Raja Galuh, ketika tidak mau di taklukkan Cirebon.

Atau ketika Sunan Gunung Jati, beserta Fatahilah, Sultan Banten Maulana Hasanuddin, Sultan Demak III Trenggono, pasukan Demak, kuningan dan Jawa di kesatuan panji Macan Ali bersama-sama menggempur Raja Pajajaran, Surawisesa di Surakarta (kemudian jadi Jayakarta/ Jakarta kini). Surakarta jadi Jayakarta, kemudian Portugis di kalahkan hingga 2 kali, dan kemudian menjadi bawahan kasultanan Banten dan Cirebon. Mungkin bagian sejarah ini seperti memperlihatkan segi untungnya ketika menjadi pemenang perang, menjadi penakluk, bahkan pada bangsa asing. Tapi kasultanan Banten dan Cirebon tidak pernah menjadi penjajah yang jahat.

  • Cerita Pajajaran menjadi kerajaan-kerajaan Islam Banten, Cirebon

Di sebelah selatan (+/_ 18 km dari kota Cirebon sekarang) ada sebuah kerajaan kecil yang di sebut Kerajaan Raja Galuh, dengan kepala negaranya bernama Prabhu Cakraningrat. Kerajaan ini meliputi pula Palimanan dengan Mangkubhuminya Dipati Kiban.

Menurut sejarah, sejak Tarumanegara, kerajaan di Jawa kemudian menjadi Pajajaran, Kawali ( Sumedang), Panjalu, dan Galuh.

Jadi kerajaan Galuh ini kekerabatan adik bungsu di antaranya wangsa Tarumanegara kemudian. Seperti Raja tuan tanah dulu yang kaya, setelah mangkat kemudian memberikan warisan bagian tanah dan kerajaan pada masing-masing turunannya. Kemudian penduduk makin bertambah padat, maka  jatah warisan pun makin berkurang, bahkan bisa tidak ada. Atau ucapan Ustad ketika di depan jenazah, jika almarhum ada berhutang, maka silakan hubungi melalui kami.

Dan di Jawa, menurut cerita Bandung Bondowoso, kerajaan Mataram purba telah ada sejak jaman purba di samping kerajaan Boko. Juga dengan keberadaan kerajaan Keling, dari India yang telah lama merupakan kerajaan Budha purba di Jawa, sebelum Sailendra.

Kerajaan Keling ini juga di sebut sejarah sebagai kerajaan kaya. Rajanya memakai emas. Kerajaannya berlimpah emas, mungkin jika di temukan artefak purbakalanya menjadi penemuan berharga bagi museum Indonesia. Dan sanksi hukum di kerajaan Keling juga sangat keras, seperti cerita pencuri yang  di potong tangan kakinya.

Di masa Raja Sanjaya, Mataram menjadi Medang Mataram. Karena di masanya Raja Sanjaya menikah dengan puteri Raja Sunda ( Kawali). Dan juga di jadikan Tohaan oleh bapak mertuanya Raja Sunda di Kawali.

Daerah Palimanan kebetulan perbatasan dengan daerah otonom Pasambangan/Caruban Larang ( Caruban Pantai/Pesisir dan Caruban Girang).

Di wilayah Pajajaran di Banten juga terdapat wilayah Banten Pesisir/ Banten Utara dan Banten Girang ( Banten Selatan/Kulon). Dulunya Banten juga bernama Medanggiling.

Dan di pelabuhan Sunda Kelapa telah terdapat kota Surakarta ( Jakarta kini). Mungkin kota Surakarta dulunya telah di jadikan kota pelabuhan pusat oleh Raja Surawisesa yang berkeraton di Pakuan Pajajaran/ Bogor kini. Raja Surawisesa ini di sejarah kerajaan Banten di sebut sebagai putera sulungnya Prabhu Siliwangi, kemudian di angkat menjadi Raja Pakuan Pajajaran penerusnya.

Caruban Larang mempunyai pelabuhan yang sudah ramai dan mempunyai sebuah Mercusuar untuk memberi petunjuk tanda berlabuh kepada perahu-perahu layar yang singgah di pelabuhan yang di sebut Muara Jati ( sekarang di sebut sebagai Alas Konda).

Pelabuhan ini ramah di singgahi oleh perahu-perahu pedagang dari berbagai negara, terutama ketika Ki Ageng Tapa sebagai Syah Bandar Pelabuhan tersebut, antara lain: pedagang-pedagang dari Arab, Persia, India, Malaka, Tumasik ( Singapura), Pase, Wangkang/ Negara Cina, Jawa Timur, Madura, Palembang, dan Bugis/Sulawesi dan lain-lain.

Sebelah timr dari Pesambangan (+/_ 5 km) ada sebuah daerah pantai yang luas, yang di sebut “Kebon Pesisir.” Oleh karena Kebon Pesisir ini berbatasan dengan Palimanan, maka Kebon Pesisir ini di akui pula sebagai daerah jajahan Kerajaan Raja Galuh. Daerah ini sudah ada penghuninya, ialah seorang nelayan yang bernama Ki Danusela, yang nantinya di sebut Ki Gedheng Alang-alang, Kuwu Caruban pertama.

Sepengetahuan penulis, di samping timur Cirebon, terdapat Indramayu, juga daerah yang subur, termasuk dengan hasil peternakan laut. Di samping sawah, dan hasil kebon mangga Indramayu yang manis. Alhamdulillah. Kalau Salak dari Jogja yang terkenal enak, manis, Salak Pondoh. Di kenyataan kini, mana hasil produk wilayah mana yang berkualitas, menunjukkan kualitas daerah tersebut dan penduduk bumiputera daerahnya. Kadang juga di tentukan dari kualitas tanahnya/ pekerjanya. Tapi ironisnya kadang akibat pusat juga masalah muncul bagi petani, salah satunya akibat masalah kelangkaan distribusi pupuk. Atau harga pupuk yang naik. Jujur saja, waktu penulis kuliah, biaya uang jajannya termasuk dari hasil kiriman uang sawah dan kebun kelapa, dulu waktu alm. bapak masih hidup.

Makanya jika sewaktu sore pulang menunggu bis di TIM, kadang membeli es kelapa yang penjualnya menggunakan gula aren/ gula Jawa yang terbuat dari kelapa.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s